loading...

Saturday, 29 June 2013


Sumatra Cyber ~ Arsip-arsip sangat rahasia Nazi mengungkapkan bahwa fantasi Adolf Hitler yang ingin menciptakan armada UFO Nazi yang bisa menghancurkan London dan New York memang kenyataan.

Perintah itu disampaikan saat pasukan Hitler di berbagai lokasi mundur.

Lokasi yang diduga sebagai tempat produksi UFO Nazi tersebut adalah serangkaian terowongan- terowongan yang terkubur di bawah Lembah Jonas di Thuringia, pusat Jerman.

Di bawah komando Jenderal SS (polisi khusus Nazi) Hans Kammler, sejumlah kelompok pekerja budak bekerja keras untuk merealisasikan mimpi Hitler.

Majalah sains Jerman, PM, mengungkapkan betapa canggihnya program tersebut saat para ilmuwan bekerja keras di sejumlah pabrik rahasia untuk memproduksi UFO untuk memenangkan perang.

Majalah itu mengutip keterangan sejumlah saksi mata yang mengaku melihat sebuah piring terbang dengan tanda salib besi Jerman yang terbang rendah di atas Sungai Thames, Inggris, pada 1944 silam.

"Amerika juga menganggap serius keberadaan senjata tersebut. Agaknya, mesin tersebut mampu menempuh jarak 2.000 kilometer pada penerbangan perdananya," demikian dilansir The Sun.

AS yakin bahwa Jerman bisa menggunakan piring terbang untuk menjatuhkan senjata ke New York, sebuah target yang ingin diserang Hitler saat perang berlanjut.

Kala itu, New York Times melaporkan terlihatnya "piring terbang misterius" dengan foto-foto benda tersebut yang terbang dengan kecepatan amat tinggi di atas gedung-gedung di kota itu yang menjulang tinggi.

"Jerman telah menghancurkan sebagian besar berkas yang berisi aktivitas mereka, tapi ada sejumlah petunjuk yang membuktikan bahwa (armada UFO Nazi) memang ada," tambah harian tersebut.


Proyek UFO Nazi dipimpin oleh dua orang insinyur, Rudolf Schriever dan Otto Habermohl, dan berbasis di Praha, Ceko, antara tahun 1941 hingga 1943.

Proyek yang berawal dari sebuah proyek Luftwaffe tersebut akhirnya berada di bawah kendali menteri persenjataan Albert Speer sebelum kembali diambil alih oleh Kammler pada 1944.

Para saksi mata yang ditangkap pasukan sekutu setelah perang mengklaim pernah melihat piring terbang dalam beberapa kejadian.

Joseph Andreas Epp, seorang teknisi yang menjadi konsultan untuk proyek Schriever- Habermohl, mengklaim ada 15 prototipe UFO yang sudah dibuat.

Ia menjelaskan tentang bentuk pesawat berupa kokpit setral yang dikelilngi sayap dan baling-baling yang berputar dan membentuk sebuah lingkaran.

Baling-baling tersebut direkatkan dengan sebuah pita di sisi luarnya dan dibuat berputar dengan roket-roket kecil yang dipasang di sekitar lingkaran.

Ketika kecepatan rotasinya cukup dan piring terbang mengangkasa, kemudian dinyalakan jet atau roket horizontal untuk menggerakkannya.

Dalam bukunya terbitan tahun 2000, Prawda O Wunderwaffe, Igor Witkowski, seorang sejarawan dan jurnalis Polandia yang mendalami bidang militer dan teknologi luar angkasa, mengklaim bahwa Hitler ingin para ilmuwannya tetap ada untuk membuat pesawat berbentuk bel.

Sedemikian mengesankannya teknologi Nazi yang ditemukan di akhir perang, para ilmuwan roket V-2 sampai diburu oleh AS dan Uni Soviet untuk dipekerjakan dalam program peluru kendali dan luar angkasa masing-masing.

Lebih dari 120 ilmuwan roket, termasuk Wernher von Braun, yang menjadi tokoh sentral di NASA menemui teknisi Jerman Georg Klein dan mengklaim bahwa ada dua jenis piring terbang yang diciptakan Nazi.

Klein, yang setelah perang berkarier sebagai insinyur aeronautika, mengatakan, "Saya tidak gila, eksentrik, atau berfantasi. Ini yang saya lihat dengan mata kepala sendiri sebuah UFO Nazi!"

Sejumlah kru pesawat pengebom Amerika dan Inggris juga melaporkan penampakan aneh di atas wilayah musuh.


Sumatra Cyber ~ Jepang datang bukan hanya untuk memenuhi ramalan Jayabaya tapi juga mengingkarinya. Perlawanan pun muncul dari gerakan Djojobojo.

RAMALAN Jayabaya telah lama hidup di tengah masyarakat Jawa. Mereka yakin pemerintah kolonial Belanda akan berakhir karena ramalan Jayabaya menyebutkan, “ayam jantan berbulu kekuning-kuningan, yang datang dari sebelah timur laut akan mengusir kerbau bule bermata biru.” Masyarakat Jawa yakin, tulis Slamet Muljana dalam Kesadaran Nasional I, yang dimaksud ayam jantan berbulu kekuning-kuningan yang datang dari timur laut adalah Jepang.

Tak heran jika kedatangan Jepang disambut dengan suka-cita oleh rakyat. Dan untuk menarik dukungan rakyat demi kepentingan perang, “Jepang juga ternyata menyebarkan selebaran dengan pesawat-pesawat udara yang dengan pandai mempergunakan ramalan Djojobojo untuk memberi janji kepada rakyat Indonesia,” tulis Sidik Kertapati dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Selebaran itu berbunyi: “Raja Djojobojo di Kediri pernah berkata bahwa bangsa kulit kuning akan datang menolong bangsa Jawa dan sekarang kamilah yang datang menolong...”

Namun, Jepang tentu tak mengakui penggalan ramalan Jayabaya berikutnya yang menyebutkan, “bangsa kulit kuning akan memerintah tanah Jawa hanya selama seumur jagung.” Penggalan ini pula yang justru menjadi harapan bukan hanya rakyat kecil tapi juga cendekiawan dan kalangan militer, misalnya para pemuda yang masuk Pemuda Tanah Air (Peta). Mereka percaya Jepang akan pergi dan Indonesia akan merdeka.

Dengan menggunakan nama ramalan itu pula, kelompok komunis, yang menetapkan fasisme sebagai lawan sejak diputuskan dalam Kongres Komunis Internasional VII di Moskow pada 1935, melakukan perlawanan terhadap Jepang dengan membentuk gerakan Djojobojo. Gerakan ini dipimpin Mr Mohammad Joesoeph, berpusat di Bandung dan mencapai daerah sekitarnya, Indramayu dan Cirebon. Di antara kader-kadernya terdapat Bahri, Hidayat, K. Muhidin, Suminta, Mohammad Sain, O. Sugih, Parnawidjadja, dan Azis.

Menurut Soeranto Soetanto dalam Pemberontakan PKI Mr. Mohammad Joesoeph Tahun 1946 di Cirebon, Joesoeph lahir di Balongan, Indramayu, Jawa Barat, pada 17 Mei 1910. Dia anak seorang pegawai pemerintah kolonial Belanda, sehingga dapat mengenyam pendidikan ELS (Europeesch Lagere School), HBS V (Hogere Burger School), bahkan mendapatkan ijazah sarjana hukum dari Universitas Utrecht, Belanda, pada 1937 – selain sempat belajar ilmu ekonomi di
Universitas Berlin. Sekembalinya ke Indonesia, dia menjadi pengacara pada 1938, dan mendapatkan simpati karena selalu membantu rakyat yang lemah di pengadilan.

Joesoeph juga menceburkan diri ke dalam dunia politik dan berbagai organisasi. Pada 1939, dia mendirikan Persatuan Supir Indonesia (Persi) di Cirebon. Organisasi sopir yang didirikannya, tulis Harry Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid I, tampaknya berhasil dengan program radikalnya, yang melihat adanya ikatan antara perjuangan serikat buruh dan aksi politik sebagai yang diharapkan dan mutlak diperlukan. “Sebagai kelanjutannya Joesoef juga ikut berperan dalam mendirikan Partai Buruh Indonesia tahun 1941,” tulis Poeze.

Pada 1942, Joesoeph menjadi anggota Gerindo di Bandung, karenanya menjalankan politik antifasis. Masih di Bandung, dia juga menjadi ketua Gabungan Perdagangan Indonesia (Gapindo) pada 1943. Sebagai kekuatan gerakan Djojobojo, “Joesoeph mengorganisasikan sopir-sopir taksi/kendaraan bermotor lainnya di wilayah Cirebon-Bandung-Tasikmalaya,” tulis Soe Hok Gie dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan.



Menurut Soeranto, dalam pergaulan sehari-hari di mata masyarakat Cirebon, “Joesoeph mempunyai sifat sombong, angkuh, tetapi penuh dengan keterus-terangan pribadinya.” Di kalangan pemuda, dia dikenal sebagai “mister gendeng” karena berani melawan dan memaki-maki Jepang di muka umum. “Karena itu, banyak pemuda yang kagum dengan keberaniannya. Bahkan, sebagai revolusioner tua, pengaruhnya besar antara lain memengaruhi D.N. Aidit,” tulis Gie.

Dalam kegiatan revolusionernya, Djojobojo berhubungan dengan grup antifasis Mr Soeprapto. Lahir di Tuban pada 1905, Soeprapto aktif di Jong Java, Indonesia Muda, Suluh Pemuda Indonesia, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, dan lulus fakultas hukum Recht Hogere School (Sekolah Tinggi Hukum) Jakarta pada 1940. “Sejak menjadi ketua Persi Cirebon, Joesoeph berkenalan dengan Soeprapto yang menjadi pimpinan Persi Semarang,” tulis Soeranto. Beberapa kader Soeprapto antara lain Abdullah, Sukirman, Abioso, Marlan, dan Rubia.

Menurut Sidik Kertapati, kegiatan Djojobojo dan kelompok Soeprapto terutama terdapat di kalangan kaum buruh bermotor, buruh minyak, perkebunan, dan sebagainya, di mana mereka melakukan taktik sabotase untuk menggagalkan jalannya produksi untuk tujuan perang. “Pada tahun 1943 gerakan Djojobojo membongkar rel kereta api antara Banjar dan Pangandaran yang membawa akibat tergulingnya kereta api militer Jepang dan putusnya hubungan antara kedua tempat itu untuk beberapa waktu lamanya,” tulis Sidik. “Juga di Nagrek, Garut, sabotase ini dilakukan lagi, tapi gagal.”

Seperti pada Gerakan Rakyat Anti Fasis (Geraf) yang dipimpin Amir Sjarifuddin, Gie menaruh keraguan pada kegiatan Djojobojo. “Kita tidak dapat menilai daya gerak dan aktivitas Joyoboyonya. Walaupun Sidik Kertapati menyatakan bahwa mereka pernah menyabot kereta api, sebagai grup bawah tanah hasil terbesarnya terbatas pada aksi-aksi propaganda,” tulis Gie. Soeranto mengemukakan pendapat senada: “Gerakan ini terbatas hanya pada aksi propaganda anti-Jepang.”

Meski begitu, Djojobojo masuk daftar hitam Jepang. Menurut Sidik, untuk menangkap anggota Dojobojo, Jepang mengadakan konferensi Joyoboyo palsu dengan menyiarkan undangannya di media massa. “Banyak di antara kader revolusioner yang tidak waspada terpancing karena tipu-muslihat itu kemudian tertangkap,” tulis Sidik. “Berpuluh kader dan anggota Djojobojo dimasukan ke penjara, dan di antara mereka yang menjadi korban dan dihukum mati adalah Parnawidjadja, Lukman, dan Tas’an.”

Joesoep sendiri tak tertangkap. Dia menyusup menjadi siswa atau penghuni Asrama Indonesia Merdeka di Kebon Sirih 80 Jakarta yang didirikan pada 1944 atas dukungan Angkatan Laut Jepang (Kaigun). Di asrama yang dikelola Mr Ahmad Subardjo dan Wikana ini, tulis Soeranto, Joesoeph membangun sel PKI bersama Soeprapto, yang kemudian sel ini menjelma menjadi PKI legal pada 21 Oktober 1945 dan diakui pemerintah pada 7 November 1945. Tak lama kemudian, PKI Joesoeph melakukan pemberontakan di Cirebon pada 12 Februari 1946. Joesoeph dan Soeprapto divonis empat tahun penjara.

Petualangan “mister gendeng” berakhir pada 1953. Dia meninggal dalam kecelakaan lalu
lintas.

Sumatra Cyber ~ “Sesungguhnya Isa Bin Maryam Akan Membunuh Dajjal Di Bab Lud (Gerbang Lod).” (Hr Ahmad, Turmudzi, Dan Nu’Aim Bin Hamad).


Pada akhir zaman nanti akan turun Dajjal ke muka bumi ini. Rasulullah SAW bersabda, “Ketika sedang tidur, aku bermimpi melakukan tawaf di Ka’bah. Lalu, ada seorang berambut lebat yang meneteskan air dari kepalanya, lalu aku tanyakan siapakah ini? Mereka menjawab, ‘Ibnu Maryam AS’.”

“Kemudian, aku berpaling dan melihat seorang laki-laki yang gemuk, berkulit merah, berambut keriting, matanya buta sebelah, dan matanya itu seperti buah anggur yang masak (tak bersinar). Mereka mengatakan, ‘Ini Dajjal’. Dia adalah orang yang paling mirip dengan Ibnu Qathn, seorang laki-laki dari Khuza’ah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lainnya disebutkan, “Lalu, turunlah Isa bin Maryam di menara putih di bagian timur Damaskus. Isa menemukan Dajjal di Pintu Lod, kemudian membunuhnya.” (HR Abu Daud)


Dari Mujami bin Jariyah al-Anshari RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Isa bin Maryam akan membunuh Dajal di Bab Lud(Gerbang Lod).” (HR Ahmad, Turmudzi, dan Nu’aim bin Hamad).

“Tidak ada satu orang kafir pun yang masih hidup, semuanya terbunuh. Lalu, Isa berhasil menyusul Dajjal di Pintu Lod dan membunuhnya. Lalu, beberapa kaum Muslimin diselamatkan Allah ke hadapan Isa bin Maryam. Ia mengusap wajah mereka dan memberitahukan kepada mereka tentang kedudukan mereka di surga.” (HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, dan Hakim).

Dalam hadis di atas diungkapkan bahwa Dajjal akan dikalahkan Nabi Isa AS di Gerbang Lod. Di manakah letaknya? Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Hadith al-Nabawi, Lod atau Gerbang Lod adalah kota yang terletak di dekat Baitul Maqdis atau Elia di Palestina dekat Ramalah. “Dahulu, rombongan kafilah dari Syam (Suriah) yang menuju Mesir singgah di kota ini, begitu juga sebaliknya,” ujar Dr Syauqi.

Kini, Lod merupakan salah satu kota yang berkembang di dataran Sharon, yaitu 15 km di tenggara Tel Aviv, Israel. Lod yang dalam bahasa Arab adalah al-Ludd itu, konon menjadi tempat tinggal Suku Benyamin. Kota seluas 12.226 km per segi itu sudah muncul sejak Periode Kanaan. Temuan tembikar di daerah tersebut menunjukkan Kota Lod telah eksis sejak 5600 hingga 5250 sebelum Masehi.

Dan sejak saat itu, Lod menjadi hunian bangsa Yahudi hingga penaklukan yang dilakukan oleh Romawi pada 70 Masehi. Kota ini dikenal sebagai pusatnya pemikir dan pedagang Yahudi. Menurut peneliti sejarah, Martin Gilbert, Raja Dinasti Hasmonean Jonathan Maccabee dan saudara laki-lakinya, Simon Maccabaeus, memperluas daerah kekuasaannya di bawah kendali Yahudi, termasuk menaklukkan Kota Lod.

Pada 43 M, Gubernur Romawi untuk Suriah Cassius menjual penduduk Lod sebagai budak. Selama Perang Romawi-Yahudi I, Prokonsul Suriah, Cestius Gallus, menghancurkan kota tersebut dalam perjalanannya menuju Yerusalem pada 66 M. Dua tahun berikutnya, kota ini diduduki oleh Kekaisaran Vespasian.


Selama Perang Kitos, tentara Roma mengepung Kota Lod dan mengganti namanya menjadi Lydda. Pada saat itu, terjadi pemberontakan Yahudi dipimpin oleh Julian dan Pappus. Lydda kemudian dikuasai dan banyak Yahudi yang dieksekusi. “Pembunuhan Lydda” sering digunakan sebagai kalimat pujian di dalam Talmud.

Romawi berhasil menguasai kota yang 75 persen penduduknya adalah bangsa Yahudi pada 70 M. Pada abad ke-3, Kekaisaran Septimius Severus mengangkat status Lod menjadi sebuah kota yang disebut dengan Colonia Lucia Septimia Severa Diospolis. Diospolis berarti kota para dewa.

Ketika diduduki oleh Kekaisaran Romawi, kebanyakan penduduknya menganut agama Kristen. Saat itu, Romawi memang tengah melakukan Kristenisasi besar-besaran di daerah kekuasaannya. Namun, pada abad ke-6 M, kota itu kembali berganti nama menjadi Georgiopolis untuk menghormati seorang prajurit Kekaisaran Diocletian, St George. Gereja dengan nama yang sama juga dibangun di kota tersebut untuk mengenangnya.

Kota ini menjadi salah satu lokasi yang penting setelah penaklukan bangsa Arab terhadap Palestina oleh pasukan tentara Muslim yang dipimpin Khalid bin Walid pada 636 M. Selama penaklukan yang dilakukan kaum Muslim, Lod menjadi markas Provinsi Filastin, meskipun selanjutnya dipindahkan ke Ramla.

Pada awal abad ke-11 M, tepatnya tahun 1099, Tentara Salib merebut kota ini dari bangsa Arab dan menamainya menjadi St Jorge de Lidde. Namun, kota tersebut direbut kembali dari Tentara Salib pada 1191 oleh pasukan Saladdin. Penjelajah Yahudi Benjamin Tudela mengatakan, saat Saladdin menaklukkan Lod, sebanyak 1.170 ke -luarga Yahudi tinggal di sana.

Di bawah Kesultanan Ottoman (Turki Usmani), Gereja Saint George dibangun pada 1870. Pada 1892, stasiun kereta untuk pertama kalinya dibangun di seluruh kota. Pada pertengahan abad ke-19 M, pedagang Yahudi berimigrasi ke kota tersebut, namun kembali mengungsi pada 1921 setelah tejadi Kerusuhan Jaffa. Pada tahuntahun ini, Lydda berada di bawah administrasi mandat Inggris di Palestina sebagai keputusan Liga Bangsa-Bangsa yang diikuti dengan Perang Dunia I.

Selama Perang Dunia II, Inggris mengatur pos-pos pasukannya di dalam dan sekeliling Lydda serta stasiun keretanya. Setelah peresmian negara Israel pada 1948, bandar udara Lod diubah namanya menjadi Bandara Ben Gurion.

Hingga 1948, Lydda menjadi permu kiman bangsa Arab dengan populasi sekitar 20 ribu penduduk dan sebanyak 18.500 jiwa adalah Muslim, sisanya Kristen. Pada 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa mem bagi Palestina kepada dua bangsa: Yahudi dan Arab. Sedangkan, Lydda diminta untuk dilepaskan dari bangsa Arab.

Namun, bangsa Arab menolak rencana tersebut. Maka, setelah menyatakan kemerdekaannya pada 14 Mei 1948, Israel menyerang dan merebut beberapa daerah Arab di luar yang diberikan PBB, termasuk Lydda. Dua bulan berikutnya, pasukan pertahanan Israel memasuki Lydda. Menurut tentara Israel, sebanyak 250 bangsa Arab, baik pria, wanita, maupun anak-anak terbunuh.

Selama 1948, populasi di Lydda meningkat menjadi 50 ribu jiwa, yang sebagian besar merupakan pengungsi Arab. Namun, sekitar 700 hingga 1.056 orang diusir atas perintah komando tinggi Iseael dan dipaksa berjalan sepanjang 17 km menuju garis Legiun Arab pada hari terpanas tahun itu. Banyak yang meninggal karena kelelahan dan dehidrasi dalam perjalanan tersebut.

Kota Lydda kemudian dikuasai oleh tentara Israel. Beberapa ratus keturunan Arab yang tinggal di kota itu tidak diizinkan menempati rumah-rumah mereka. Mereka segera kalah jumlah akibat masuknya imigran Yahudi dari berbagai daerah pada Agustus 1948. Sebagian dari mereka adalah Yahudi yang tinggal di negara-negara Arab.

Maka, seperti awal mula berdirinya kota tersebut, Kota Lydda kembali menjadi Kota Yahudi. Imigran Yahudi terus berdatangan, awalnya dari Maroko dan Tunisia, lalu dari Ethiopia, dan kemudian dari Uni Soviet.

Di dalam Kota Lod terdapat sebuah dinding setinggi tiga meter yang dibangun untuk memisahkan distrik Yahudi dari distrik bangsa Arab. Pertumbuhan daerah Arab sangat minim, sementara Pemerintah Israel telah mendorong pembangunan di daerah Yahudi. Beberapa layanan, seperti lampu jalan dan pengumpulan sampah hanya dilakukan di distrik Yahudi.

Hal itu mengingatkan kita ketika Berlin terbagi dua oleh Tembok Berlin karena berlakunya dua kekuatan di sana, yaitu Amerika Serikat di Berlin Barat dan Uni Soviet di Berlin Timur.

Sumatra Cyber ~ Anda mendambakan tidur nyenyak berkualitas, namun masih gemar memainkan gadget di kasur? Sebaiknya pikirkan lagi.

Lebih dari 80% dari orang menggunakan smartphone sepanjang waktu, termasuk di tempat tidur. Ponsel atau tablet sering bisa digunakan sebagai jam alarm. Tapi tak sedikit orang yang tergoda memainkan ponselnya di tengah malam untuk mengecek e-mail, membaca berita atau chatting.

Padahal tablet dan smartphone memancarkan Light Emitting Diode (LED). Para penulis penelitian Mayo Clinic di Arizona mengatakan, perangkat itu memancarkan cahaya pada tingkat yang lebih tinggi sehingga mengurangi pelepasan melatonin seperti dilansir Guardian (9/6).

Melakukan sesuatu yang merangsang sebelum tidur seperti membaca dengan paparan cahaya di wajah Anda, menjawab e-mail dari ponsel akan meningkatkan insomnia. Suasana tidur yang baik berarti Anda bersantai di ruangan gelap tanpa suara. Ada beberapa bukti jika LED dapat mengurangi melatonin.


Melatonin sendiri diproduksi oleh kelenjar pineal di otak manusia. Hormon ini membantu kita mengetahui kapan saatnya tidur dan bangun dan berperan dalam menjaga ritme jantung. Melatonin tidak muncul jika orang tidur malam hari dengan lampu menyala. Adanya cahaya atau sinar membuat produksi hormon melatonin akan berhenti.

Penelitian lain telah membuktikan menggunakan ponsel dan komputer terlalu banyak menyebabkan susah tidur dan depresi, terutama pada orang muda.

Tinggalkan smartphone sebelum tidur, atau perangkat tersebut membunuh waktu tidur Anda.

Friday, 28 June 2013



Sumatra Cyber ~ Tanggal 8 Agustus 1945, pemimpin tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara, Jenderal Terauchi memanggil Soekarno dan Mohammad Hatta ke Vietnam. Terauchi sama sekali tidak menjelaskan apa maksudnya. Hal ini membuat Soekarno dan Hatta bertanya-tanya.

Berangkatlah mereka dengan diiringi 20 pejabat tinggi militer Jepang. Pesawat yang ditumpangi Soekarno penuh sesak. Tapi tak ada yang mau bicara soal alasan pemanggilan tersebut.

Ternyata pertemuan Soekarno-Hatta dengan Terauchi di Dalath ini sangat penting dalam sejarah Indonesia. Jepang mengaku tidak akan menghalang-halangi kemerdekaan Indonesia. Jepang sadar mereka sudah dikalahkan pasukan sekutu. Kondisi peperangan sama sekali berubah. Jepang sudah kalah habis-habisan dalam perang dunia II di Pasifik.




Kisah ini diceritakan Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang diterbitkan Yayasan Bung Karno tahun 2007.

Maka dengan membawa berita baik itu, pulanglah Soekarno dan Hatta ke Indonesia. Kali ini mereka tidak naik pesawat penumpang yang bagus seperti saat berangkat. Mereka naik pesawat pembom yang sudah rongsokan. Banyak lubang bekas tembakan di badan pesawat itu.

Pesawat itu juga tidak memiliki tempat duduk. Para penumpang duduk di lantai pesawat atau berbaring. Tidak ada juga pemanas, sehingga para penumpang menggigil kedinginan. Parahnya, tidak ada juga kamar kecil.

Nah, yang jadi masalah, saat itu Soekarno ingin kencing. Dia berbisik pada Suharto, dokter pribadinya.

"Aku ingin kencing. Apa yang harus kulakukan?" bisik Soekarno.

Suharto juga bingung, tidak ada kamar kecil. Maka dia menunjuk bagian ekor pesawat yang penuh lubang bekas tembakan. "Tidak ada tempatnya, jadi tidak ada jalan lain. Bung harus kencing di sana," kata Suharto.

"Baiklah. Aku melangkah pelan-pelan ke bagian belakang pesawat dan melampiaskan hajatku. Dan baru aku mulai, tiupan angin yang keras menghempas melalui lubang-lubang bekas peluru dan menyemburkan air itu ke seluruh ruangan pesawat. Kawan-kawanku yang malang itu mandi dengan air istimewa," beber Soekarno.

Saat mendarat di Jakarta, para pemimpin bangsa itu masih setengah basah dengan air kencing sang pemimpin besar revolusi. Tak dijelaskan bagaimana reaksi Hatta dan yang lainnya saat terkena air kencing Soekarno.
loading...