loading...

Thursday, 18 September 2014


Sumatra Cyber ~ Kisah nyata ini benar benar terjadi pada Muhammad Herman B yang pernah meninggal tetapi kemudian ia dihidupkan lagi atau biasa disebut mati suri. Kejadian ini terjadi pada tahun 2009. Ia menceritakan beberapa hal tentang kehidupan setelah kematian datang. 

Muhammad Herman B berujar "Saat Sakaratul Maut Itu Adalah Puncak Siksa Awal Dari Perjalanan Maut. Semua Urat Tubuh Serasa Akan Meledak,perih Panas Dan Seperti Sedang Berada Di Kabel Voltase Paling Tinggi, utamanya Urat Menuju Ke ginjal juga yang menuju jantung seperti terbakar. Anehnya memori tetap bekerja dengan baik, sepertinya sengaja dibuat demikian agar dapat merasakan dan menyaksikan semua peristiwa yg dialami tubuh. Nah Ketika Fase Kematian Itu Sudah Mulai Memuncak..Rasa Takut Mengguncang Tetapi Sudah Tidak Ada Daya Menghindari,disaat Itu Pula Semua Kenangan Kita Dapat Kita Lihat,dari Terlahir,tumbuh ,dewasa Dsb. Nah Yang Paling Menakutkan Adalah Mendengar Suara Siksa Kubur Dari Makam Tempat Kita Akan Di Kubur. Setelah Itu Melihat Semua keadaan kubur. Dan Pada Saat Itu Pula Ruh Kita Akan Melihat Semua Sanak Keluarga,teman,sahabat Kita Di Mana Saja Mereka Berada.kemudian ruh di bawa keatas arsy-NYA..Baru kemudian dicabutlah nyawa.Saat Nyawa Di Cabut Itupun Memori Otak Tetap Merekam" ujarnya.


Ia menambahkan lagi "Ketika Ruh Melewati Langit, malaikat Akan Memberi Tahu Kita Memasuki Langit Yg Ke Berapa. Di Tiap Langit Ada Malaikat Yg Menjaga.Di Saat Saya Memasuki Langit Ke 3 Itulah Ada Suara Mengatakan, " Ini Belum Waktunya,kembalikan Sekarang ". Nah Setelah Itu Saya Terbangun Dalam Keadaan Yang Rasanya Sudah Berbeda.Bahkan Merasa Asing Dgn Tubuh Sendiri, Perasaan Itu Semakin Tidak Nyaman Ketika Saya Merasakan Berada Di Tempat Lain. Apalagi Dosa Perbuatan Tetap Menghantui.,bahkan Semua Makhluk Menceritakan Perbuatan Diri. Ada Satu Hal Yang Membuat Saya Takut Ketika Mendengar Burung,ayam,angin Bicara Laksana Manusia.
Asal Tahu Aja Ruh Kita Lebih Besar Dari Luasnya Bumi. Kita Dapat Melihat Apa Saja Saat Kita Dalam Perjalanan Maut. Saya Memang Di Hidupkan Lagi Krn Belum Waktunya. Yang membawa Ruh Ibu Anda Itulah Malaikat. Wajah Mereka Hanya Cahaya Tetapi Kalau Orang Jahat Maka Akan Terlihat Hitam" ujarnya.

Kejadian setelah kematian :

1. Rasa sakit yang luar biasa saat sakaratul maut (tergantung amal ibadah)
2. Mendengar siksa kubur di sekeliling dimana tempat kita di kubur
3. Ruh akan mendatangi sanak saudara yang ada di muka bumi ini
4. Lalu ruh akan dibawa ke 'Arsy dikawal oleh malaikat
5. Amalan anda di dunia akan menentukan kehidupan anda di akhirat

Jika anda dapat hidup lagi setelah kematian maka diberi kelebihan oleh Allah, menurut pengakuan MHB dia bisa membaca Alqur'an tanpa baris (makhraj), dapat mendengarkan pembicaraan orang dari jarak manapun, selalu didatangi ruh yang akan meninggalkan jasadnya khusus yang pernah dekat dan kenal dengannya dan dapat mendengarkan nafas manusia seperti mengucapkan kata dua kalimat syahadat.

Sungguh besar kekuasaan Yang Maha Kuasa. Wallahualam.



Monday, 1 July 2013



Sumatra Cyber ~ Kontingen Pasukan Garuda di Haiti mendapatkan medali penghargaan dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Di Kongo, atas kerja kerasnya membangun jalan raya, pasukan Garuda juga mendapat banyak pujian. Sebagai pasukan penjaga perdamaian di bawah PBB, kiprah Pasukan Garuda memang mendapat tempat di hati masyarakat setempat.

Pasukan Garuda di Libanon juga sempat menyelamatkan pasukan pengintai Spanyol yang sedang melakukan patroli. Saat itu posisi tim Spanyol benar-benar terjepit karena dikejar pasukan Hizbullah.

Kisah ini dimuat dalam buku Kopassus untuk Indonesia yang ditulis Iwan Santosa dan EA Natanegara dan diterbitkan R&W.

Ceritanya saat itu 60 pasukan Spanyol yang mengendarai 10 panser sedang berpatroli rutin. Mereka sempat mengambil foto dokumentasi kabel saluran air yang dicurigai sebagai kabel komunikasi milik Hizbullah. Ternyata aksi mereka diketahui Hizbullah.

Dengan menggunakan 10 motor trail dan mobil, Hizbullah mengejar tentara Spanyol. Mereka menyandang AK-47 dan roket antitank. Tim pengintai Spanyol terpaksa meminta bantuan Kontingen Indonesia.

Untuk mencegah pertempuran darah, akhirnya Spanyol terpaksa menyerahkan memory card kamera tersebut pada Hizbullah disaksikan pasukan Garuda sebagai penengah.

"Anda punya senjata, kami juga punya. Kami tidak takut menghadapi anda," kata Hizbullah galak pada tentara Spanyol.


Maka setelah konflik mereda, anggota Pasukan Garuda menemui para tokoh Hizbullah. Mereka mencoba menerangkan ada kesalahpahaman antara Hizbullah dan Spanyol. Hubungan pasukan TNI dengan warga sekitar Libanon memang dekat. Sikap Pasukan Indonesia yang ramah tamah ternyata mempunyai keuntungan. Apalagi rakyat Libanon dan Indonesia sama-sama beragama Islam.

Setelah pasukan Garuda memberi penerangan, para anggota Hizbullah bisa memahami masalah tersebut. Mereka pun melupakan konflik yang terjadi dengan pasukan Spanyol dari United Nations Interim Force In Lebanon (UNIFIL) ini.

"Kami orang Libanon sebenarnya tidak menghargai dan menghormati UNIFIL karena mereka tidak berpihak secara adil pada orang Libanon selatan. Tetapi kami melakukan ini karena sangat menghormati anda orang Indonesia," kata Hizbullah.

Wah, memang hebat.

Friday, 28 June 2013



Sumatra Cyber ~ Tanggal 8 Agustus 1945, pemimpin tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara, Jenderal Terauchi memanggil Soekarno dan Mohammad Hatta ke Vietnam. Terauchi sama sekali tidak menjelaskan apa maksudnya. Hal ini membuat Soekarno dan Hatta bertanya-tanya.

Berangkatlah mereka dengan diiringi 20 pejabat tinggi militer Jepang. Pesawat yang ditumpangi Soekarno penuh sesak. Tapi tak ada yang mau bicara soal alasan pemanggilan tersebut.

Ternyata pertemuan Soekarno-Hatta dengan Terauchi di Dalath ini sangat penting dalam sejarah Indonesia. Jepang mengaku tidak akan menghalang-halangi kemerdekaan Indonesia. Jepang sadar mereka sudah dikalahkan pasukan sekutu. Kondisi peperangan sama sekali berubah. Jepang sudah kalah habis-habisan dalam perang dunia II di Pasifik.




Kisah ini diceritakan Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang diterbitkan Yayasan Bung Karno tahun 2007.

Maka dengan membawa berita baik itu, pulanglah Soekarno dan Hatta ke Indonesia. Kali ini mereka tidak naik pesawat penumpang yang bagus seperti saat berangkat. Mereka naik pesawat pembom yang sudah rongsokan. Banyak lubang bekas tembakan di badan pesawat itu.

Pesawat itu juga tidak memiliki tempat duduk. Para penumpang duduk di lantai pesawat atau berbaring. Tidak ada juga pemanas, sehingga para penumpang menggigil kedinginan. Parahnya, tidak ada juga kamar kecil.

Nah, yang jadi masalah, saat itu Soekarno ingin kencing. Dia berbisik pada Suharto, dokter pribadinya.

"Aku ingin kencing. Apa yang harus kulakukan?" bisik Soekarno.

Suharto juga bingung, tidak ada kamar kecil. Maka dia menunjuk bagian ekor pesawat yang penuh lubang bekas tembakan. "Tidak ada tempatnya, jadi tidak ada jalan lain. Bung harus kencing di sana," kata Suharto.

"Baiklah. Aku melangkah pelan-pelan ke bagian belakang pesawat dan melampiaskan hajatku. Dan baru aku mulai, tiupan angin yang keras menghempas melalui lubang-lubang bekas peluru dan menyemburkan air itu ke seluruh ruangan pesawat. Kawan-kawanku yang malang itu mandi dengan air istimewa," beber Soekarno.

Saat mendarat di Jakarta, para pemimpin bangsa itu masih setengah basah dengan air kencing sang pemimpin besar revolusi. Tak dijelaskan bagaimana reaksi Hatta dan yang lainnya saat terkena air kencing Soekarno.

Friday, 21 June 2013



Sumatra Cyber ~ Kisah nyata ini terjadi di China. Bacalah kisah ini semoga kita dapat memetik dari pelajaran ini.

Ayah kandungku meninggal dunia, ketika aku berumur dua tahun. Ia meninggalkan aku, ibuku, dan adikku yang baru berusia 6 bulan. 
Kami hidup di desa terpencil. Belum ada listrik di desa kami, hanya orang mampulah yang sudah mengenyam listrik di sini, berbeda dengan keluargaku. Ayahku hanya petani desa dan ibuku hanya membantu panen ayahku jika musim panen tiba. Tapi, setelah ayahku meninggal tak ada lagi yang bisa kami gantungkan.

Singkat cerita, setelah 2 tahun ibukku menjanda dan mengurus aku dan adikku sendirian. Ada seorang lelaki tinggi kekar berbadan tegap dengan membawa sebuah alat penghisap rokok kuno datang dan ku tahu ia bermaksud menyunting ibukku dan hendak menikahinya. Lelaki asing ini sama sekali belum pernah aku liat sebelumnya. 

Keesokan harinya, rumahku ramai sekali, aku tidak mengetahui jika itu adalah pesta pernikahan. Semua orang berkumpul, ibuku dan lelaki itu tampak cantik dan tampan sekali.Aku hanya tersenyum dan menyandangkan bahuku kepada Paman yang duduk di depan teras. 
Ia berkata, sekarang lelaki itu ayah barumu. Sontak aku terkaget dan bangun dari dada paman, aku tak mengerti arti perkataan paman itu dan paman hanya tersenyum pahit melihatku.

Lelaki itu menikahi ibuku, dan lantas menjadi ayah tiriku. Ia bertanggung jawab pada penghidupan kami. Dia bekerja seperti halnya ayah kandungku, hanya seorang petani padi yang untung pada bulan panen saja. Hubungan kami dingin, tak layak seperti seorang ayah dan anaknya. Aku tahu ia tak seperti ayah tiri seperti yang ada di dongeng, bahkan ia sangat menyayangiku.

Suatu hari, aku pulang sekolah dengan sangat lelah. Sekolahku berjarak dua kilometer dari rumah dan harus berjalan kaki. Sesampainya aku dirumah, aku memanggil ibu dan tak ada jawaban. Aku mulai panic dan kulihat ibukku menangis meraung-raung di depan jemuran pakaian dan meremas-remas perutnya. Aku semakin panic, sakit maagh ibuku kambuh. Di rumah hanya adikku, ia sedang menggoreng tempe untuk makan siang kami sedangkan ayah tiri sedang berada di sawah.Aku menyuruh adikku menyusul si ayah tiri, sesaat kemudian ia dan adikku datang dengan tergesa-gesa. Dengan kaki berlumuran tanah dan bahkan tanpa alas kaki, ia berlari ke kamar dan langsung menggendong ibuku dan membawanya ke tempat mantri. Aku dan adikku menunggu ibu di rumah dengan cemas, aku berpikir mengapa ayah tiri begitu perhatian dengan ibu. Apa mungkin hanya ibu saja ia begitu ?

Tak lama kemudian ibu dan ayah tiri pulang, ibu tersenyum dan menyuruhku mengambil penghisap rokok ayah tiri di sawah yang tertinggal. Aku hanya menuruti saja, karna hari memang sudah mulai malam. Tanpa hirau ku ambil sandal jepit lusuhku dari sisi kayu-kayu bakar dan mulai berjalan. Belum genap aku berjalan jauh, ada lelaki yang memanggilku dari kejauhan. Ternyata ayah tiri berdiri dan mulai mendekatiku.
“mau apa kamu ? sudah biar saya yang ambil” ia berkata sembari menepuk pundakku. Aku hanya mengangguk dan berputar arah dan kembali ke rumah. Dalam hatiku baik sekali ia, ia sudah terlalu lelah di sawah lalu sempat mengurus ibu dan sekarang berniat mengambil penghisap rokok kesayangannya di sawah.

Dari dulu sampai sekarang aku memang benci dengan asap rokok. Sampai pada suatu hari aku berniat untuk menyembunyikan penghisap rokok milik ayah tiri dan berniat tak akan mengembalikannya. Setelah itu, ayah tiri tampak tak bergairah dan gelisah beberapa hari ini. Akhirnya setelah beberapa hari itu aku mengaku dan mengacungkan penghisap rokok itu pada ayah tiri, dan tiba-tiba ia menampar pipi kiriku hingga membekas, ia juga tampak sangat marah dan terlihat wajah kesal serta kecewa darinya. 
Aku menangis dan berlari pada ibu, ibu memelukku dan berkata penghisap rokok itu nyawa ayahmu lain kali yang sopan. Aku tak mengerti apa yang baru saja ibu katakan. 

Ayah tiri langsung pergi dan menyalakan api pada penghisap itu dan duduk di depan teras. Aku menghampiri nya dan mengintip lewat kaca saja apa yang ia lakukan.

Ku perhatikan ia dengan seksama, lewat kepulan-kepulan asap yang kubenci itu berlinanglah air mata pada pipinya. Aku tak tau, mengapa ia menangis seperti itu. Sekilas aku melamun, tanpa kusadari adikku sudah berada di sampingku dan menyodorkan buku tulis lusuh serta pensil sebesar kelingking padaku. Ia menyenggolku,sontak aku terkejut dan jatuh terduduk di lantai pasir rumahku.

“kak nomer ini bagaimana?” Tanya adikku dengan menunjuk soal nomer 3 yang ada di buku tulisnya. 
Ku rebut buku itu dan menyuruhnya masuk kekamar, aku akan menyusulnya.

Tatapan ayah tiri begitu bermakna, ia menatap awan senja dengan sesekali menghisap dan menyemburkan asap itu. Tatapan misteri, seorang ayah tiri yang hebat dan perkasa. Terkadang tatapan itu berubah seperti tatapan penuh dosa dan derita, derita panasnya matahari saat di sawah, derita hutang yang ia tanggung untuk keluarga yang ia naungi. Sekilas ia juga mengusap pipi lusuhnya dan menyeka keringat yang ada di dahinya yang berkerut. 


Kerutan-kerutan tragis yang seolah menggambarkan beberapa kebutuhan pokok yang belum terpenuhi keluarga dan harus ia penuhi. Sebagian peluh itu terjatuh membasahi kausnya, kaus lusuh berwarna putih kesayangannya yang sudah tak berbentuk. Banyak sekali yang sobek dan kumuh. 


Rasanya berat sekali beban yang di timpanya. Tetapi ia tetap tegar, tegap, dan kokoh layaknya ayah kandungku. 


Baru kusadari, selama hampir 12 tahun ibu menikah dengannya aku belum pernah sekalipun memanggilnya ayah, aku hanya memanggil eh atau woi padanya.
***


Besok ada hari kelulusanku dan sudah waktunya aku untuk melanjutkan kuliah di kota. Tapi aku menyadari ekonomi keluarga kami pasti tak menyukupinya. Setelah aku mengikuti test di salah satu universitas di kota.
“aku yakin bisa bu, aku yakin aku bisa.” Kataku pada ibu.
“kami tak kan bisa membayarnya nak, kuliah itu mahal.” Jawab ibu polos. 

Aku hanya menunduk dan merasakan tepukan tangan ayah tiri pada pundakku, ia hanya menggumam dan kembali menghisap rokoknya. Aku memang sedih, mendengar perkataan ibu saja aku sudah pesimis, aku sadar aku tak punya.

Keesokan harinya ayah tiri berteriak dan melompat-lompat kegirangan, buk anakku diterima. Aku, ibu, dan adik lantas menghampirinya. Ia memberikan surat pemberitahuan itu pada ibu dan ibu hanya mencoba untuk membacanya walaupun ia tak satupun mengenali huruf yang ada didalamnya bahkan kertasnya pun terbalik. Ku lihat senyum gembira, pada ayah tiri. Dan ia tampak bersemangat sekali hari ini, bahkan aku di tawarinya singkong bakar sore ini.


Tak seperti biasa. Aku masuk kamar dan sekilas otakku mengulang kejadian tadi pagi dan “anakku” kenapa ia memanggilku “anakku” sudah jelas aku adalah anak dari ayah kandungku yang sudah meninggal. Aku melamun jauh hingga menggumam.
“anakku ? anakku ? anakku ?” gumamku.


Tak terasa ibu sudah duduk dikasur, dan berkata tentulah kamu anaknya nak. Bahkan ia sangat ingin dipanggilmu ayah. Dia setiap malam berdo’a agar kau memanggilnya ayah, dia sangat menyayangimu. Ia sering berkata pada ibu, kapan kau bisa memanggilnya ayah, ia sangat ingin menggantikan ayah menjadi ayahmu selamanya. 


Aku menangis dan hanya diam, ibu keluar kamarku dan menutup kelambu kumuh sebagai pemisah tiap ruang rumah. Ayah tiri ingin sekali ku panggil ayah? perasaanku bimbang.

Lusa adalah hari pertama aku kuliah dan kami belum membayar uang kuliahnya. Kalau sampai lusa belum membayar, aku akan di keluarkan dari tempat perkuliahan itu. Tabungan ayah tiri dan ibu pun terkumpul sebesar Rp. 2.300.000 padahal uang kuliahnya sebesar Rp. 3.000.000. uang dari mana kami bisa mendapatkannya ? ayah tiri memperhatikanku sedari kita makan, ia melihat mataku yang sedih, aku mulai kesal dan membuang piring makanku, langsung keluar rumah dan duduk di pos ronda depan rumah. Ayah tiri membuntutiku.
“sudah gede, masih cengeng.” Kata ayah tiri dan duduk di teras rumah. Tanpa raut muka yang tenang dan penuh kedamaian, ia menghisap kembali rokoknya itu dan sesekali memonyongkan bibirnya untuk menyemburkan asap. Aku sempat kesal melihatnya. Tapi itulah dia, tatapan penuh misterinya kembali datang. Tak ada satupun orang yang mengetahui apa isi hatinya, yang pasti sedang gelisah sedih bagaimana ia mendapatkan kekurangan uang kuliahku.

Hari ini aku bangun terlalu siang. Melihat seisi rumah kosong, entah kemana anggota keluargaku yang lain pergi. Jam dinding tua peninggalan kakek, sudah menunjukan pukul 11 siang. Hari sudah mendung, berbeda sekali hari ini. Tiba-tiba hujan datang, aku sontak mengambil ember untuk menopang air hujan yang bocor agar lantai tidak becek. Lalu ibu datang bersama ibuku, ia berkata.
“siang sekali kau bangunnya, ayahmu sudah pergi dari tadi pagi sekali kekota untuk meminjam uang dipemda katanya.” Kata ibu sembari membawa sebuah bakul berisi singkong untuk menu makan malam kami nanti.

Sore harinya, ayah pulang dengan senyuman semangat andalannya. Bajunya basah dan terlihat kusam. Mungkin karena basah dan sudah mulai kering lagi. Senyumannya membuatku lega, entah apa dan bagaimana ia dapatkan uang itu. Tapi yang penting ia telah kembali. Aku mengkhawatirkannya. Ibu menuangkan air hangat di ember kecil dan memasukan kaki ayah tiri di sana, pemandangan berubah seketika. Kaki itu penuh dengan luka, membengkak, dan menganga. Aku tahu ia harus berjalan kaki lebih dari 40 kilometer pulang pergi ke kota. Pemandangan ini menyedihkan. 
Ku sadar, kini, ia tak lagi lelaki gagah berbadan tegap dan kuat. Ia berubah menjadi lelaki kurus, tua, dengan tangan dan kaki dipenuhi urat yang menonjol berwarna hijau. 
Kerutan dahinya semakin banyak. Menyedihkan sekali.
***

Hari ini hari kuliah pertamaku, ayah tiri mengantarku ke tempat pemberentian bis dikota dengan sepeda. Ia menggoyah sepeda itu dengan susah payah, sedangkan aku hanya duduk diam dibelakangnya. Apalagi jalan desa kami naik turun, ayah tiri yang sudah tua ini sesekali menyeka peluhnya yang membasahi dahinya. Terlalu lelah ia mengantarku. Terkadang ia memanggil namaku dan diam. Dalam perjalan itu ia hanya memanggilku, seperti ada yang ingin ia katakan tapi tak bisa. Aku juga sama, aku ingin sekali memulai pembicaraan dan memanggilnya ayah tapi selalu gagal. 


Ketika sampai di tempat pemberentian bus, ia terlihat pucat pasi dan berkeringat banyak sekali. Aku menyuruhnya duduk tapi dia tak mau dan memilih memayungiku dengan daun pisang, karena hari itu memang sangat panas. Setelah bus menuju kota tiba, aku memasuki bus itu dengan penuh harapan. Aku menduduki jok kursi disebelah kiri hingga aku bisa melihat ayah tiri dari jendela. Tatapannya penuh dengan harapan, aku tak tega melihatnya, ia memandangi bus ini hingga jauh, terlihat dari kejauhan ia melambaikan tangannya pada bus ini. Dan mulai memutar balik sepedanya. Ia berjalan tertatih-tatih tanpa alas kaki.

Ibu bilang, setiap kali aku harus membayar kuliah. Ayah selalu pergi ke kota untuk meminjam uang temannya. Hari ini aku libur kuliah, karna akan masuk semester akhir, semua orang berkumpul di rumah. Ayah tiri tampak senang sekali aku bisa pulang dengan selamat. Aku bercerita pada adikku, kehidupan di kota benar-benar berbeda, teman-temanku saja sudah membawa ponsel, laptop, hingga iPod, sedangkan aku radio pun tak punya. Sontak ayah tiri berdiri dan meninggalkan ruangan itu, ia menangis di kamar. Semua orang tak menghiraukannya, aku mendengar ia berkata, aku tak bisa memberinya yang pantas maafkan aku. Ya tuhan, ia kecewa dengan perkataanku tadi.Ia menangisiku, ayah tiri bersedih. Lalu, ia keluar kamar dan menyulut rokoknya. Matanya masih merah, berair, mukanya pucat, tubuhnya kurus sekali.

Ibu berkata, kapan kau akan memanggilnya ayah. Ia sangat menunggumu memanggilnya ayah. Aku hanya diam dan menunduk.
***

Hari ini adalah hari wisudaku, nilaiku tertinggi. Tapi taka da satupun keluargaku yang datang, aku berjanji pada diriku sendiri setelah ini aku pulang dan memanggilnya ayah. 
Ketika sampai dirumah ibu memelukku, ibu berkata, ayah sudah dua hari yang lalu meninggal !! 

Aku menangis meraung-raung, aku ingin sekali mewujudkan do’anya dengan memanggilnya ayah. 
Ibu menyuruhku duduk dan ia mengambil kaleng kotak kuno dan menyuruhku membukanya. Ia berkata, bahwa itu berkas-berkas hutang dan mungkin menyuruhku untuk membayar hutang-hutang itu. Ku buka perlahan, memang benar ada 13 lembar kertas berisi…. ya tuhan berkas penjualan darah ? Ternyata selama ini ayah tiriku pergi jauh untuk menjual darahnya demi biaya kuliahku. Ibu tak mengetahuinya karna ia tak dapat membaca. Aku menangis, kaleng itu jatuh dari genggamanku. Aku berteriak, ayah…..ayah….. . kesedihan ini mendalam, sakit sekali. Aku rindu ayahku bukan ayah tiri lagi. Ayah, kembalilah. Lalu, ibu memberiku sepucuk surat padaku, iaberkata itu adalah tulisan adikmu dari pembicaraan ayah.
“selamat pagi, anakku. Kamu sehat kan ? aku ingin sekali meminta maaf padamu karena dulu aku telah menamparmu. Jujur, hal itu tak bisa terlupakan olehku selama ini. Tolong maafkan aku. Aku terlalu kesal waktu itu, penghisap rokok itu bagaikan nyawaku. Selamat kau telah mendapatkan wisudamu, aku bangga sekali padamu. Jaga ibu dan adikmu. Masalah berkas penjualan darah itu, kau jaga baik-baik, jangan sampai ibumu tau. Satu lagi anakku, betapa inginnya aku mendapat panggilan ayah darimu…aku ingin sekali menggantikan ayahmu..tapi mungkin itu tak mungkin…….semua orang tahu aku hanya ayah tirimu. Nak, harus kau tau betapa sayangnya aku padamu, betapa cintanya aku padamu. Selamat tinggal sayang…
dari :
Ayahmu…

Ayah, ayah, aku terus menangis meraung-raung membaca tulisan itu. Aku juga sayang sekali sama ayah. Ibu lantas memeluku, ia bercerita tentang penghisap rokok itu.
“Dulu ayahmu juga membenci rokok,penghisap itu milik ayahnya. Hubungan ibu dan ayahmu sudah lama, kami teman sepermainan. Tapi, hubungan ibu di tentang oleh kakek karena ayahmu terlalu miskin. Saat ayahmu melamar ibu, kakek memberikan mahar yang berat pada keluarga ayahmu. Lalu, demi melamar ibu ayahnya meminjam uang itu ke tempat tambang batu bara, naas kecelakaan merenggut nyawa ayahnya ayahmu dan meninggalkan sebuah penghisap rokok ayahmu itu. Lalu, ayahmu merantau untuk mencari uang mahar kakek. Akhirnya, ibu dipaksa menikah dengan ayah kandungmu. Ayahmu menunggu dan hidup sendirian selama 5 tahun dengan penghisap rokok itu. Waktu ayah kandungmu tiada, barulah ia berani menyunting ibu dan memutuskan tak memiliki anak lagi. Ia bertanggung jawab atas kamu dan adikmu.”

Mendengar cerita ibu, aku merinding sekali. Ku remas surat dari ayah itu dan melepaskan pelukan ibu. Ayah, ada dan tiada dirimu aku mencintaimu. Terimakasih ayahanda atas semua jasa yang kau berikan, inilah salam cinta dariku Anandamu…

Sunday, 16 June 2013


Sumatra Cyber ~ Ada seorang pemuda yang lama sekolah di Amerika Serikat kembali ke tanah air. Tentu sepulang lama dari Amerika ia merasa superior dengan kecerdasannya. Sesampainya dirumah, ia meminta kepada orang tuanya untuk mencarikan seorang guru agama, ulama atau siapapun yang bisa menjawab tiga pertanyaannya. Selama ini ia belum menemukan jawabannya yang memuaskan. Setelah mencari-cari, akhirnya orang tua si pemuda mendapatkan orang tersebut. Ia seorang Kiayi di kampungnya.Setelah bertatap muka, si pemuda bertanya: “Anda siapa? Apakah Anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?”
Kyai : “Saya hamba Allah. Dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan Anda.”
Pemuda: “Anda yakin? Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.”
Kyai : “Insya Allah. Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.”
Pemuda: “Oke. Saya punya tiga buah pertanyaan dan selama ini belum menemukan jawabannya yang memuaskan saya. Kalau bisa tolong Anda jawab: Pertama, kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya? Kedua, apakah yang dinamakan takdir? Ketiga, kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api juga, tentu tidak menyakitkan buat syetan karena mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?
Tiba-tiba sang Kyai menampar pipi si pemuda dengan keras, “plakk….!”
Sambil meringis menahan sakit, si pemuda terheran-heran dan bertanya: “Kenapa Anda marah kepada saya?”
Sang Kyai dengan kalem menjawab: “Saya tidak marah anak muda! Tamparan itu adalah jawaban saya atas tiga buah
pertanyaan yang Anda ajukan kepada saya.”
Pemuda: “Saya sungguh tidak mengerti.”
Kyai: “Tidak mengerti ya? Nah, sekarang tolong jawab pertanyaan saya. Bagaimana rasanya tamparan saya?”
Pemuda: “Tentu saja saya merasa sakit.”
Kyai: “Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?”
Pemuda: “Ya.”
Kyai: “Tunjukan pada saya wujud sakit itu? Mana?” Si Pemuda diam tidak bisa menjawab.
Ia bingung, lalu menjawab pelan: “Tidak bisa.”
Kyai : “Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita semua merasakan keberadaan
Tuhan tanpa mampu melihat wujud-Nya.”
Sang Kiayi bertanya lagi:
Kyai : “Apakah tadi malam Anda bermimpi akan ditampar oleh saya?”
Pemuda: “Tidak.”
Kyai : “Apakah pernah terpikir oleh Anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?”
Pemuda: “Tidak.”
Kyai : “Itulah yang dinamakan Takdir.”
Si pemuda diam lagi. Pak Kiayi meneruskan.
Kyai : “Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar pipi Anda?”
Pemuda: “kulit.”
Kyai : “Terbuat dari apa pipi Anda?”
Pemuda: “kulit.”
Kyai : “Bagaimana rasanya tamparan saya?”
Pemuda: “sakit.”
Kyai : “Walaupun syetan terbuat dari api dan neraka terbuat dari api juga, karena Tuhan menghendaki, maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syetan.”
Si pemuda diam seribu bahasa, tidak berkata-kata lagi.[]
(edited and reposted from anonymous)
Makna:
Memang, sekolah yang tinggi, modern dan maju belum tentu membuat orang jadi semakin tawadhu. Malah banyak yang menjadi angkuh seperti si pemuda ini. Kisah ini menggambarkan kecerdasan spiritual mengalahkan kecerdasan rasio ilmu pengetahuan modern. Kiayi kampung mengalahkan kecerdasan lulusan Barat!

Thursday, 13 June 2013





Sumatra Cyber ~ Meski ia mengatakan, “Aku tidak punya bakat khusus. Aku hanyalah orang yang penasaran.” namun nama “Einstein” sangat identik dengan kata “Jenius”. Hampir tidak ada seorangpun yang menolak jika Einstein dikatakan sebagai prototipe manusia jenius. Berikut berbagai pemikiran dan pendapat seorang Albert Einstein:

1. Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman.

2. Sesuatu yang paling sulit dimengerti di dunia ini adalah pajak penghasilan.

3. Ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang luar biasa seandainya seseorang tidak harus menghabiskan hidupnya terhadap hal tersebut.

” Knowledge is something extraordinary in case someone does not have to spend his life on it. “

4. Terpuruk dalam masalah merupakan peluang hebat untuk kita.

5. Saya tidak memiliki bakat tertentu. Saya hanya ingin tahu.

” I have no particular talent. I am merely inquisitive. “

6. Jika fakta tidak sesuai dengan teori, rubahlah faktanya.

” If the facts don’t fit the theory, change the facts “

7. Semakin hukum matematika menunjukkan realitas, menjadi semakin tidak pasti; semakin pasti, semakin tidak menunjukkan realitas.

” As far as the laws of mathematics refer to reality, they are not certain; and as far as they are certain, they do not refer to reality. “

8. Kerja keras bukan untuk sukses tetapi untuk sebuah nilai.

” Strive not to be a success, but rather to be of value. “

9. Pelepasan tenaga atom telah merubah segalanya kecuali cara kita berpikir… pemecahan untuk masalah ini tergantung kepada hati nurani umat manusia. Jika saya mengetahuinya, lebih baik saya menjadi pembuat jam tangan.

” The release of atom power has changed everything except our way of thinking… the solution to this problem lies in the heart of mankind. If only I had known, I should have become a watchmaker. “

10. Tragedi kehidupan adalah sesuatu yang mati di dalam diri seseorang pada saat dia hidup.

11. Saya tidak pernah memikirkan masa depan. Masa depan akan segera datang.

” I never think of the future. It comes soon enough. “

12. Jika A adalah ‘sukses’, maka rumusnya adalah ‘A=X+Y+Z’, dimana X adalah ‘kerja’, Y adalah ‘bermain’, dan Z adalah jaga mulut anda agar tetap tertutup.

” If A equals success, then the formula is: A=X+Y+Z. X is work. Y is play. Z is keep your mouth shut. “

13. ketika seseorang bertanya kepada Einstein, pertanyaan apa yang akan diajukan kepada Tuhan bila dia dapat mengajukan pertanyaan itu, dia menjawab,”Bagaimana awal mula jagad raya ini? Karena segala sesuatu sesudahnya hanya masalah matematika.” Tapi setelah berpikir beberapa saat, dia mengubah pikirannya lalu bilang,”Bukan itu. Saya akan bertanya,”Kenapa dunia ini diciptakan?” Karena, dengan demikian saya akan mengetahui makna hidup saya sendiri.”

14. Telegraph tanpa kabel tidak sulit untuk dimengerti. Telegraph biasa seperti kucing yang sangat panjang. Anda tarik ekornya di New York, dan mengeong di Los Angeles. Yang tanpa kabel sama saja, hanya tanpa kucingnya.

” The wireless telegraph is not difficult to understand. The ordinary telegraph is like a very long cat. You pull the tail in New York, and it meows in Los Angeles. The wireless is the same, only without the cat. “

15. Tuhan tidak bermain dadu.

” God doesn’t play dice. “

16. Kelemahan dalam tingkah laku menjadi kelemahan karakter.

“Weakness of attitude becomes weakness of character.“

17. Membaca, setelah beberapa waktu, menggelapkan pikiran terlalu jauh dari pencarian kreatif nya. Seseorang yang membaca terlalu banyak dan menggunakan otaknya terlalu sedikit akan menjadi kebiasaan malas untuk berpikir.

“ Reading, after a certain age, diverts the mind too much from its creative pursuits. Any man who reads too much and uses his own brain too little falls into lazy habits of thinking. “

18. Ketika ditanya dengan apa perang dunia III akan dilakukan, Einstein menjawab bahwa ia tidak tahu. Tapi dia mengetahui dengan apa perang dunia IV akan dilakukan: Dengan pentungan dan batu!

” When asked how World War III would be fought, Einstein replied that he didn’t know. But he knew how World War IV would be fought: With sticks and stones! “

19. Agama tanpa ilmu adalah buta. Ilmu tanpa agama adalah lumpuh.

” Religion without science is blind. Science without religion is paralyzed. “

20. Kenyataan hanyalah sebuah ilusi, walaupun terjadi terus menerus.

” Reality is merely an illusion, albeit a very persistent one. “

21. Jika teori relativitas terbukti sukses, Jerman akan mengklaim saya sebagai orang Jerman dan Perancis menyatakan bahwa saya seorang penduduk dunia. Seharusnya teori saya terbukti tidak benar, Perancis akan mengatakan saya orang Jerman dan Jerman akan mengatakan saya orang Yahudi.

“If my theory of relativity is proven successful, Germany will claim me as a German and France will declare that I am a citizen of the world. Should my theory prove untrue, France will say that I am a German and Germany will declare that I am a Jew.“

22. Nasionalisme adalah penyakit yang kekanak-kanakan. Itu adalah penyakit campak dari ras manusia.

“Nationalism is an infantile sickness. It is the measles of the human race.“

23. Sejak ahli matematika menginvasi teori relativitas. Saya tidak mengerti diri saya lagi.

24. Kaum intelektual memecahkan masalah, para jenius mencegah mereka.

“Intellectuals solve problems; genuises prevent them.“

25. Aku meyakini bahwa Dia (Tuhan) tidak bermain dadu.

“I am convinced that he ( God ) does not play dice.“

26. Hukum gravitasi tidak berlaku terhadap orang yang sedang jatuh cinta.

“Gravitation cannot be held responsible for people falling in love.“

27. Adalah mungkin untuk menjelaskan segala sesuatu secara ilmiah, tetapi itu membuatnya tanpa rasa; itu membuatnya tanpa arti, seperti jika anda menjelaskan Simfony Beethoven sebagai variasi dari tekanan udara.

“It would be possible to describe everything scientifically, but it would make no sense; it would be without meaning, as if you described a Beethoven symphony as a variation of wave pressure.”

28. Tugas sains antara lain adalah untuk menemukan keindahan alam.

29. Di tengah kesulitan terdapat kesempatan.

“In the middle of difficulty lies opportunity.”

30. Satu – satunya hal yang bertentangan dengan ilmu pengetahuanku adalah pendidikanku.

“The only thing that interferes with my learning is my education.”

31. Ketika anda berpacaran dengan cewek yang manis, satu jam seperti sedetik. Ketika anda duduk di atas tungku panas, sedetik serasa satu jam. Itulah relativitas.

“When you are courting a nice girl an hour seems like a second. When you sit on a red-hot cinder a second seems like an hour. That’s relativity.”

32. Itu tidak berarti saya cerdas, Itu hanya karena saya tetap dengan masalah tersebut lebih lama.

“It’s not that I’m so smart , it’s just that I stay with problems longer.”

33. Banyak orang mengatakan kepintaran yang menjadikan seseorang Ilmuwan besar. Mereka keliru.. itu adalah karakter.

“Many people say that the intelligence that make the great scientists. They are mistaken .. it is the characters.”

34. Masalah penting yang kita hadapi kini tidak dapat kita pecahkan pada tingkat berpikir yang sama seperti ketika kita menciptakan masalah tersebut.

“We can not solve problems by using the same kind of thinking we used when we created them.”

35. Hanya ada dua hal yang tidak terbatas, alam semesta dan kebodohan. Dan saya tidak yakin tentang alam semesta.

“There are only two truly infinite things, the universe and stupidity. And I am unsure about the universe.”

36. Ada dua cara untuk memahami kehidupan. Cara pertama dengan menyadari bahwa tidak ada hal yang mukjizat. Yang kedua menyadari bahwa semua hal adalah mukjizat.

“There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle.”

37. Intuisi lebih penting daripada penjelasan. Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.

38. Cobalah tidak untuk menjadi seseorang yang sukses, tetapi menjadi seseorang yang bernilai.

“Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.”

39. Seseorang memulai untuk hidup ketika ia dapat hidup diluar dirinya.

“A person starts to live when he can live outside himself.”

40. Hal terindah yang dapat kita alami adalah misteri. Misteri adalah sumber semua seni sejati dan semua ilmu pengetahuan

Wednesday, 12 June 2013



Sumatra Cyber ~ Pada suatu hari, seorang anak masuk ke dalam rumah makan yang sangat terkenal dan mahal. Dia masuk seorang diri dan memakai pakaian biasa saja, tidak seperti anak-anak lain yang memakai pakaian yang bagus. Anak itu duduk di salah satu kursi lalu mengangkat tangannya untuk memanggil salah satu pelayan.
Seorang pelayan perempuan menghampiri anak kecil itu lalu memberikan buku menu makanan. Pelayan tersebut agak heran mengapa anak kecil itu berani masuk ke dalam rumah makan yang mahal, padahal dari penampilannya, pelayan itu tidak yakin bahwa sang anak kecil mampu membayar makanan yang ada.
“Berapa harga es krim yang diberi saus strawberry dan cokelat?” tanya sang anak kecil.
Sang pelayan menjawab, “Lima puluh ribu,”
Anak kecil itu memasukkan tangan ke dalam saku celana lalu mengambil beberapa receh dan menghitungnya. Lalu dia kembali bertanya, “Kalau es krim yang tidak diberi saus strawberry dan cokelat?”
Si pelayan mengerutkan kening, “Dua puluh ribu,”
Sekali lagi anak kecil itu mengambil receh dari dalam saku celananya lalu menghitung. “Kalau aku pesan separuh es krim tanpa saus strawberry dan cokelat berapa?”
Kesal dengan kelakuan pembeli kecil itu, pelayan menjawab dengan ketus, “Sepuluh ribu!”
Sang anak lalu tersenyum, “Baiklah aku pesan itu saja, terima kasih!”
Pelayan itu mencatat pesanan lalu menyerahkan pada bagian dapur lalu kembali membawa es krim pesanan. Anak itu tampak gembira dan menikmati es krim yang hanya separuh dengan suka cita. Dia melahap es krim sampai habis. Kemudian sang pelayan kembali datang memberikan nota pembayaran.
“Semua sepuluh ribu bukan?” tanya anak itu lalu membayar es krim pesanannya dengan setumpuk uang receh. Wajah sang pelayan tampak masam karena harus menghitung ulang receh-receh itu. Lalu sang anak mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari saku celana belakangnya, “dan ini tips untuk Anda!” ujar sang anak sambil menyerahkan selembar uang tersebut untuk si pelayan”.
Ada kalanya kita tidak melihat apa yang melekat pada tubuh seseorang saja sebagai penilaian. Bukan hal yang bagus untuk meremehkan seseorang karena melihat penilaian dari luar, Anda tidak akan pernah tahu pada beberapa waktu yang akan datang, seseorang yang Anda remehkan bisa jadi merupakan pengantar rejeki yang tak terduga.

Tuesday, 11 June 2013


Sumatra Cyber ~ Baginda Raja baru saja membaca kitab tentang kehebatan Raja Sulaiman yang mampu memerintahkan, para jin memindahkan singgasana Ratu Bilqis di dekat istananya. Baginda tiba-tiba merasa tertarik. Hatinya mulai tergelitik untuk melakukan hal yang sama. Mendadak beliau ingin istananya dipindahkan ke atas gunung agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di sekitar. Dan bukankah hal itu tidak mustahil bisa dilakukan karena ada Abu Nawas yang amat cerdik di negerinya.

Tanpa membuang waktu Abu Nawas segera dipanggil untuk menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid. Setelah Abu Nawas dihadapkan, Baginda bersabda, "Abu Nawas engkau harus memindahkan istanaku ke atas gunung agar aku lebih leluasa melihat negeriku?" tanya Baginda sambil melirik reaksi Abu Nawas.

Abu Nawas tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak hingga keningnya berkerut. Tidak mungkin menolak perintah Baginda kecuali kalau memang ingin dihukum. Akhirnya Abu Nawas terpaksa menyanggupi proyek raksasa itu. Ada satu lagi, permintaan dari Baginda, pekerjaan itu harus selesai hanya dalam waktu sebulan. Abu Nawas pulang dengan hati masgul.


Setiap malam ia hanya berteman dengan rembulan dan bintang-bintang. Hari-hari dilewati dengan kegundahan. Tak ada hari yang lebih berat dalam hidup Abu Nawas kecuali hari-hari ini. Tetapi pada hari kesembilan ia tidak lagi merasa gundah gulana. Keesokan harinya Abu Nawas menuju istana. Ia menghadap Baginda untuk membahas pemindahan istana. Dengan senang hati Baginda akan mendengarkan, apa yang diinginkan Abu Nawas.

"Ampun Tuanku, hamba datang ke sini hanya untuk mengajukan usul untuk memperlancar pekerjaan hamba nanti." kata Abu Nawas.
"Apa usul itu?"
"Hamba akan memindahkan istana Paduka yang mulia tepat pada Hari Raya Idul Qurban yang kebetulan hanya kurang dua puluh hari lagi."
"Kalau hanya usulmu, baiklah." kata Baginda.
"Satu lagi Baginda..." Abu Nawas menambahkan.
"Apa lagi?" tanya Baginda.
"Hamba mohon Baginda menyembelih sepuluh ekor sapi yang gemuk untuk dibagikan langsung kepada para fakir miskin." kata Abu Nawas. "Usulmu kuterima." kata Baginda menyetujui. Abu Nawas pulang dengan perasaan riang gembira. Kini tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Toh nanti bila waktunya sudah tiba, ia pasti akan dengan mudah memindahkan istana Baginda Raja. Jangankan hanya memindahkan ke puncak gunung, ke dasar samudera pun Abu Nawas sanggup. 

Desas-desus mulai tersebar ke seluruh pelosok negeri. Hampir semua orang harap-harap cemas. Tetapi sebagian besar rakyat merasa yakin atas kemampuan Abu Nawas. Karena selama ini Abu Nawas belum pemah gagal melaksanakan tugas-tugas aneh yang dibebankan di atas pundaknya. Namun ada beberapa orang yang meragukan keberhasilan Abu Nawas kali ini. Saat-saat yang dinanti-nantikan tiba. Rakyat berbondong-bondong menuju lapangan untuk melakukan sholat Hari Raya Idul Qurban.

Dan seusai sholat, sepuluh sapi sumbangan Baginda Raja disembelih lalu dimasak kemudian segera dibagikan kepada fakir miskin. Kini giliran Abu Nawas yang harus melaksanakan tugas berat itu. Abu Nawas berjalan menuju istana diikuti oleh rakyat. Sesampai di depan istana Abu Nawas bertanya kepada Baginda Raja, "Ampun Tuanku yang mulia, apakah istana sudah tidak ada orangnya lagi?"

"Tidak ada." jawab Baginda Raja singkat. Kemudian Abu Nawas berjalan beberapa langkah mendekati istana. Ia berdiri sambil memandangi istana. Abu Nawas berdiri mematung seolah-olah ada yang ditunggu. Benar. Baginda Raja akhirnya tidak sabar.

"Abu Nawas, mengapa engkau belum juga mengangkat istanaku?" tanya Baginda Raja.

"Hamba sudah siap sejak tadi Baginda." kata Abu Nawas. "Apa maksudmu engkau sudah siap sejak tadi? Kalau engkau sudah siap. Lalu apa yang engkau tunggu?" tanya Baginda masih diliputi perasaan heran.

"Hamba menunggu istana Paduka yang mulia diangkat oleh seluruh rakyat yang hadir untuk diletakkan di atas pundak hamba. Setelah itu hamba tentu akan memindahkan istana Paduka yang mulia ke atas gunung sesuai dengan titah Paduka." Baginda Raja Harun Al Rasyid terpana. Beliau tidak menyangka Abu Nawas masih bisa keluar dari lubang jarum.

Monday, 10 June 2013

Sumatra Cyber ~ Tubuh renta itu terbaring lemah di atas kasur. Hanya berteman piring dan gelas yang tergeletak di sampingnya. Di pergelangan kaki kiri melingkar rantai anjing, mengikat rapat-rapat. Kondisinya menyedihkan.

Dialah si bapak malang asal Bangalore, India, Anantaiah Shetty. Pria 93 tahun itu dirantai oleh putranya di teras rumah yang terletak di lantai tiga. Bapak 6 anak --4 putra dan 2 putri-- ini harus tinggal di bawah tangki air. Padahal di bawahnya, anak dan menantunya hidup di rumah mewah.

Adalah Suresh Kumar yang tega menelantarkan Shetty. Suresh Kumar adalah anak ke 3 Shetty. Anak durhaka itu telah berlaku kejam kepada Shetty selama setahun belakangan. Menempatkan sang ayah di teras tiap siang hari, hanya beralas kasur berukuran 4 kaki yang terbungkus kain kumal. Suresh hanya menurunkan Shetty pada waktu malam hari.

Kekejaman ini berhasil dibongkar oleh polisi JP Nagar. Shetty diselamatkan dari 'kandang' kecil setelah salah satu tetangga memberi informasi penderitaan pria renta ini ke saluran TV Kannada. Kekejaman ini merupakan kasus ke 2. Dan penyelamatan Shetty ini terjadi sehari setelah penyelamatan dramatis Hemavathi yang dikurung selama 5 tahun oleh ayahnya.

"Tolong selamatkan saya," kata Anantaiah Shetty lirih kepada polisi yang datang untuk mengevakuasinya. Polisi sudah meminta keterangan anak dan menantu bejat ini. Polisi kini menunggu kondisi Shetty membaik untuk dimintai kesaksian.

Akibat kekejaman ini, Suresh dan istrinya Kalpana ditangkap dan akan dihadapkan ke pengadilan. "Sangat sulit merawat ayah saya karena dia tidak bisa merawat dirinya dan mengotori rumah," kata Suresh Kumar seperti dikutip dari Time of India, Kamis (6/6/2013).

"Bagaimana kami bisa membersihkan setiap hari," sambung sang menantu, Kalpana.

Polisi kemudian megantar Shetty ke Rumah Sakit Victoria untuk menjalani perawatan. Dia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Gandhi Sanjay di Jayanagar. Dokter mengatakan kaki kirinya melemah karena terus-menerus dirantai.

Shetty tinggal bersama Suresh dan satu putra lainnya Garish. Anaknya yang lebih tua, Venkatesh Kumar dan Sanath Kumar hidup terpisah setelah berselisih dengan Suresh dan Girish. Pada tahun 2005, istri Shetty, Nagaratnamma meninggal karena sakit yang berkepanjangan.

Saturday, 8 June 2013


Sumatra Cyber ~ Kisah heroik yang dialami Kontingen Garuda sungguhlah menakjubkan. Kiprah Pasukan Garuda kembali menuai prestasi. 167 Prajurit TNI di Haiti yang tergabung dalam Satuan Tugas Kompi Zeni (Satgas Kizi) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXII-B/MINUSTAH (Mission des Nations Unies pour la Stabilisation en Haiti) menerima penghargaan Medali PBB.

Pasukan perdamaian dari Indonesia selalu bisa diterima dengan baik di negara penugasan. Sejak Kontingen Garuda I bertugas di Mesir tahun 1957, sejak itulah pasukan baret biru di bawah PBB ini mengharumkan nama bangsa.

Ada cerita menarik soal Pasukan Garuda. 30 Pasukan Garuda berhasil membekuk 3.000 gerilyawan di Kongo berbekal akal bulus dan kecerdikan. 
Ceritanya, Desember 1962 di Kongo sedang bergolak. Kontingen Garuda III (Konga III) di bawah pimpinan Kolonel Kemal Idris berangkat sebagai pasukan perdamaian di bawah UNOC (United Nations Operation in the Congo). 

Saat itu kelompok milisi di bawah pimpinan Moises Tsommbe ingin lepas dari pemerintah Republik Demokratik Kongo pimpinan Presiden Kasavubu. Rakyat sipil pun segera menjadi korban pertikaian antar milisi dan tentara pemerintah.

Pasukan Garuda III segera dikenal karena keluwesannya bergaul. Banyak Singkong di Kongo, pasukan TNI pun mengajarkan bagaimana cara mengolah masakan Indonesia, membuat kue, serta menyayur daun singkong sehingga enak dimakan. Selama ini rakyat Kongo hanya mengolah singkong menjadi tepung yang rasanya tidak enak.

Suatu hari, terjadi serangan yang dilakukan 2.000 gerilyawan Kongo ke markas Pasukan Garuda. Saat itu markas hanya dipertahankan 300 tentara. Setelah baku tembak berjam-jam, gerilyawan dapat dipukul mundur. Untungnya tak ada korban di pihak Indonesia.

Serangan balasan pun segera dirancang untuk menangkap para pemberontak. Letjen Kemal Idris menceritakan hal ini dalam buku biografi, Kemal Idris, bertarung dalam revolusi terbitas Sinar Harapan.

"Kami melakukan penyerangan di malam hari dengan kapal yang digelapkan di atas danau Tanganyika, tidak berapa jauh dari daerah Albertville. Pasukan kami yang berkekuatan 30 orang menyamar sebagai hantu," beber Kemal Idris.

Kemal tahu 3.000 pemberontak itu sangat percaya takhayul. Mereka takut pada hantu spritesses yang digambarkan berwarna putih dan melayang-layang di waktu malam. Maka 30 anggota pasukan garuda itu berpakaian jubah putih dan segera menyerang.

"Melihat sosok-sosok putih bergerak-gerak, semangat mereka hilang sama sekali dan segera menyerah," kata Kemal.

Dalam operasi kilat itu, ribuan gerilyawan Kongo ditangkap. Senjata-senjata mereka yang ternyata lumayan canggih disita. Dalam peristiwa itu hanya seorang prajurit TNI yang cidera. Salah seorang gerilyawan yang panik saat digerebek, melemparkan ayam yang tengah dibakarnya pada tentara kita.

"Sejak itu, anggota Garuda III di kenal oleh orang-orang Kongo dengan julukan Les Spiritesses, pasukan yang berperang dengan cara yang tidak biasa dilakukan orang," kata Kemal bangga.

Letnan Jenderal Kadebe Ngeso dari Ethopia mengaku bangga atas keberhasilan pasukan Indonesia menangkap 3.000 lainnya tanpa jatuh korban. Namun dia pun meminta ke depan cara-cara unik seperti itu tidak dilakukan. Karena risiko terlalu besar dan sangat membahayakan. 

Wednesday, 5 June 2013

Sumatra Cyber ~ Pelajaran mana yang lebih baik daripada sebuah keteladanan? Terlebih dalam kondisi ketika banyak pemimpin negeri kita yang tak amanah. Namun tak selayaknya kita berputus asa, justru kita wajib berdoa. Semoga Allah kan hadirkan sosok pemimpin teladan seperti sejarah merekam Umar bin Khattab dan kepemimpinan beliau dalam kisah inspirasi berikut... 
***
Krisis itu masih melanda Madinah. Korban sudah banyak berjatuhan. Jumlah orang-orang miskin terus bertambah. Khalifah Umar Bin Khatab yang merasa paling bertanggung jawab terhadap musibah itu, memerintahkan menyembelih hewan ternak untuk dibagi-bagikan pada penduduk.

Ketika tiba waktu makan, para petugas memilihkan untuk Umar bagian yang menjadi kegemarannya: punuk dan hati unta. Ini merupakan kegemaran Umar sebelum masuk islam. “Dari mana ini?” Tanya Umar.

“Dari hewan yang baru disembelih hari ini,” jawab mereka.

“Tidak! Tidak!” kata Umar seraya menjauhkan hidangan lezat itu dari hadapannya. “Saya akan menjadi pemimpin paling buruk seandainya saya memakan daging lezat ini dan meninggalkan tulang-tulangnya untuk rakyat.”
Kemudian Umar menuruh salah seorang sahabatnya,” Angkatlah makanan ini, dan ambilkan saya roti dan minyak biasa!” Beberapa saat kemudian, Umar menyantap yang dimintanya.

Kisah yang dipaparkan Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya ar-Rijal Haular Rasul itu menggambarkan betapa besar perhatian Umar terhadap rakyatnya. Peristiwa seperti itu bukan hanya terjadi sekali saja. Kisah tentang pertemuan Umar dengan seorang ibu bersama anaknya yang sedang menangis kelaparan, begitu akrab di telinga kita. Ditengah nyenyaknya orang tidur. Ia berkeliling dan masuk sudut-sudut kota Madinah. Ketika bertemu seorang ibu dan anaknya yang sedang kelaparan, Umar sendiri yang pergi mengambil makanan. Ia sendiri juga yang memanggulnya, mengaduknya, memasaknya dan menghidangkannya untuk anak-anak itu.

Keltika kelaparan mencapai puncaknya Umar pernah disuguhi remukan roti yang dicampur samin. Umar memanggil seorang badui dan mengajaknya makan bersama. Umar tidak menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum badui itu melakukannya terlebih dahulu. Orang badui sepertinya sangat menikmati makanan itu. “Agaknya Anda tidak pernah merasakan lemak?” Tanya Umar.

“Benar,” kata badui itu. “Saya tidak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun. Saya juga sudah lama tidak menyaksikan orang-orang memakannya sampai sekarang,” tambahnya.

Mendengar kata-kata sang badui, Umar bersumpah tidak akan makan lemak sampai semua orang hidup seperti biasa. Ucapannya benar-benar dibuktikan. Kata-katanya diabadikan sampai saat itu, “Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenayangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya.”

Padahal saat itu Umar bisa saja menggunakan fasilitas Negara. Kekayaan Irak dan Syam sudah berada ditangan kaum Muslimin. Tapi tidak. Umar lebih memilih makan bersama rakyatnya.

Pada kesempatan lain, Umar menerima hadiah makanan lezat dari Gubernur Azerbeijan, Utbah bin Farqad. Namun begitu mengetahui makanan itu biasanya disajikan untuk kalangan elit, Umar segera mengembalikannya. Kepada utusan yang mengantarkannya Umar berpesan, “Kenyangkanlah lebih dulu rakyat dengan makanan yang biasa Anda makan.”

Sikap seperti itu tak hanya dimiliki Umar bin Khattab. Ketika mendengar dari Aisyah bahwa Madinah tengah dilanda kelaparan. Abdurrahman bin Auf yang baru pulang dari berniaga segera membagikan hartanya pada masyarakat yang sedang menderita. Semua hartanya dibagikan.

Ironisnya, sikap ini justru amat jauh dari para pejabat sekarang. Penderitaan demi penderitaan yang terus melanda bangsa ini, tak meyadarkan mereka. Naiknya harga kebutuhan pokok sebelum harga BBM naik dan meningkatnya jumlah orang-orang miskin, tak menggugah hati mereka. Bahkan, perilaku boros mereka kian marak.

Anggota Dewan yang ditunjuk rakyat sebagai wakil, justru banyak yang berleha-leha. Santai dan mencari aman. Pada saat yang sama, para pejabat yang juga dipilih langsung, tak pernah memikirkan rakyat. Yang ada dalam benak mereka , bagaimana bisa aman selama lima tahun ke depan.

Mereka yang dulu vocal mengkritik para pejabat korup dan zalim, justru kini diam. Ia takut kalau kursi yang saat ini didudukinya lepas. Sungguh jauh beda dengan Abu Dzar al-Ghifari, seorang sahabat Rasulullah saw. Ketika suatu saat dia cukup pedas mengkritik para pejabat di Madinah, Ustman bn Affan memindahkannya ke Syam agar tak muncul konflik. Namun, ditempat inipun ia melakukan kritik tajam pada Muawiyah bin Abu Sufyan agar menyantuni fakir miskin.

Muawiyah pernah mengujinya dengan mengirimkan uang. Namun ketika esok harinya uang itu ingin diambilnya kembali, ternyata Abu Dzar telah membagikannya pada fakir miskin.

Sesungguhnya, negeri kita ini tidak miskin. Negari kita kaya. Bahkan teramat kaya. Tapi karena tidak dikelola dengan baik, kita menjadi miskin. Negeri kita kaya, tapi karena kekayaan itu hanya berada pada orang-orang tertentu saja, rakyat menjadi miskin. Kekayaan dimonopoli oleh para pejabat, anggota parlemen dan para pengusaha tamak.

Di tengah suara rintihan para pengemis dan orang-orang terlantar, kita menyaksikan para pejabat dan orang-orang berduit dengan ayik melancong ke berbagai negari. Mereka seolah tanpa dosa menghambur-hamburkan uang dengan membeli barang serba mewah.

Ditengah gubuk-gubuk reot penuh tambalan kardus bekas, kita menyaksikan gedung-gedung menjulang langit. Diantara maraknya tengadah tangan-tangan pengemis, mobil-mobil mewah dengan santainya berseleweran. Pemandangan kontras yang selalu memenuhi hari-hari kita.

Dimasa Umar bin Abdul azis, umat islam pernah mengalami kejayaan. Kala itu sulit mencari mustahiq (penerima) zakat. Mereka merasa sudah mampu, bahkan harus mengeluarkan zakat. Mereka tidak terlalu kaya. Tapi, kekayaan dimasa itu tidak berkumpul pada orang-orang tertentu saja.

Disinilah peran zakat, infak dan shadaqah. Tak hanya untuk ‘membersihkan’ harta si kaya, tapi juga menuntaskan kemiskinan.

Jika ini tidak kita lakukan, kita belum menjadi mukmin sejati. Sebab, seorang Mukmin tentu takkan membiarkan tetanggana kelaparan. Rasulullah saw bersabda, “Tidak beriman seseorang yang dirinya kenyang, sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Muslim)

Tuesday, 4 June 2013

Sumatra Cyber ~ Kisah ini saya dapatkan di status facebook salah seorang sahabat saya. Saking inspiratifnya, saya tergerak untuk segera tuliskan ulang dan hadirkan untuk Anda.
Dikisahkan suatu waktu di Indonesia, ada sebuah perusahaan yang melakukan rekrutmen untuk sebuah posisi. Perusahaan tersebut perusahaan besar, yang sampai sekarang pun namanya insya Allah masih cukup dikenal di Indonesia. Pelamar untuk posisi tersebut terbilang besar, sekitar 2000-an orang. Namun hanya 1 orang yang akhirnya diterima bekerja disana.

Dalam proses rekrutmen, perusahaan tersebut memberikan sebuah tes tertulis. Isi tes tertulisnya, adalah sebuah kasus untuk dijawab oleh calon karyawannya. Berikut kasus dalam tes tulis. 

------

Anda sedang mengendarai motor ditengah malam yang hujan, ditengah jalan Anda melihat 3 orang sedang menunggu kedatangan angkot :
- Seorang nenek tua yang sangat lapar.
- Seorang dokter yang pernah menyelamatkan hidup Anda sebelumnya.
- Seseorang special yang selama ini menjadi idaman hati Anda.

Anda hanya bisa mengajak satu orang untuk dibonceng, siapakah yang akan Anda ajak ? 
Dan jelaskan mengapa Anda melakukan itu!!

-----------

Jika Anda ikut dalam proses rekrutmen tersebut, kira-kira jawaban Apa yang akan Anda berikan?
Jangan scroll kebawah sebelum Anda memberikan jawaban Anda.










Serius, jawablah dulu, baru kita lihat jawaban yang diterima.





 dari 2000an pelamar & jawaban, hanya 1 yg diterima, Orang tersebut tidak menjelaskan jawabannya, hanya menulis dengan singkat :

"Saya akan memberikan kunci motor saya kepada sang dokter dan meminta dia untuk membawa nenek tua tersebut untuk ditolong segera. Sedangkan saya sendiri akan tetap tinggal disana dengan sang idaman hati untuk menunggu angkot."

Dan diterimanyalah ia serta langsung mendapat kualifikasi smart & brilliant employee 

Lepas dari nilai non-syari terkait khalwat-nya, Bagi saya pribadi, hikmah yang bisa saya petik adalah kita dapat melakukan sebuah efisiensi pekerjaan yang menyenangkan. Syaratnya hanyalah kita mau berkorban lebih untuk mendapatkan sesuatu yang insya Allah lebih besar. 

Kalau kamu? inspiratif Apa yang bisa kamu petik?

Friday, 31 May 2013

http://sumatracyber.blogspot.com/ ~ Olimpiade Barcelona, 1992.
Enam puluh lima ribu pasang mata hadir di stadion itu. Semua hendak menyaksikan event atletik besar di ajang olahraga terbesar seplanet bumi.
Nama lelaki itu Derek Redmond, seorang atlet pelari olimpiade asal Inggris. Impian terbesarnya ialah mendapatkan sebuah medali olimpiade, -apapun medalinya-. Derek sebenarnya sudah ikut di ajang olimpiade sebelumnya, tahun 1988 di Korea. Namun sayang beberapa saat sebelum bertanding, ia cedera sehingga tak bisa ikut berlomba. Mau tak mau, olimpiade ini, adalah kesempatan terbaiknya untuk mewujudkan mimpinya. Ini adalah hari pembuktiannya, untuk mendapatkan medali di nomor lari 400 meter. Karena ia dan ayahnya sudah berlatih sangat keras untuk ini.

Suara pistol menanda dimulainya perlombaan. Latihan keras yang dijalani Derek Redmond, membuatnya segera unggul melampaui lawan-lawannya. Dengan cepat ia sudah memimpin hingga meter ke 225. Berarti kurang 175 meter lagi. Ya, kurang sebentar lagi ia kan mendapatkan medali yang diimpikannya selama ini.

Namun tak ada yang menyangka ketika justru di performa puncaknya, ketika ia sedang memimpin perlombaan tersembut, tiba-tiba ia didera cedera. Secara tiba-tiba di meter ke 225 tersebut, timbul rasa sakit luar biasa di kaki kanannya. Saking sakitnya, seolah kaki tersebut telah ditembak sebuah peluru. Dan seperti orang yang ditembak kakinya, Derek Redmond pun menjadi pincang. Yang ia lakukan hanya melompat-lompat kecil bertumpu pada kaki kirinya, melambat, lalu rebah di tanah. Sakit di kakinya telah menjatuhkannya.

Derek sadar, impiannya memperoleh medali di Olimpiade ini pupus sudah.

Melihat anaknya dalam masalah, Ayahnya yang berada di atas tribun, tanpa berpikir panjang ia segera berlari ke bawah tribun. Tak peduli ia menabrak dan menginjak sekian banyak orang. Baginya yang terpenting adalah ia harus segera menolong anaknya.

Di tanah, Derek Redmond menyadari bahwa impiannya memenangkan olimpiade pupus sudah. Ini sudah kedua kalinya ia berlomba lari di Olimpiade, dan semuanya gagal karena cidera kakinya. Namun jiwanya bukan jiwa yang mudah menyerah.  Ketika tim medis mendatanginya dengan membawa tandu, ia berkata, “Aku tak akan naik tandu itu, bagaimanapun juga aku harus menyelesaikan perlombaan ini”, katanya.


Maka Derek pun dengan perlahan mengangkat kakinya sendiri. Dengan sangat perlahan pula, sambil menahan rasa sakit dikakinya, ia berjalan tertatih dengan sangat lambat. Tim medis mengira bahwa Derek ingin berjalan sendiri ke tepi lapangan, namun mereka salah. Derek ingin menuju ke garis finish.


Di saat yang sama pula Jim, Ayah Derek sudah sampai di tribun bawah. Ia segera melompati pagar lalu berlari melewati para penjaga menuju Anaknya yang berjalan menyelesaikan perlombaan dengan tertatih kesakitan. Kepada para penjaga ia hanya berkata, “Itu anakku, dan aku akan menolongnya!”


Akhirnya, kurang 120 meter dari garis finish, sang Ayah pun sampai juga di Derek yang menolak menyerah. Derek masih berjalan pincang tertatih dengan sangat yakin. Sang Ayah pun merangkul dan memapah Derek. Ia kalungkan lengan anaknya tersebut ke bahunya.


“Aku disini Nak”, katanya lembut sambil memeluk Anaknya, “dan kita akan menyelesaikan perlombaan ini bersama-sama.


Ayah dan anak tersebut, dengan saling berangkulan, akhirnya sampai di garis finish. Beberapa langkah dari garis finish, Sang Ayah, Jim, melepaskan rangkulannya dari anaknya agar Derek dapat melewati garis finish tersebut seorang diri. Lalu kemudian, barulah ia merangkul anaknya lagi.


Enam puluh lima ribu pasang mata menyaksikan mereka, menyemangati mereka, bersorak bertepuktangan, dan sebagian menangis. Scene Ayah dan anak itu kini seolah lebih penting daripada siapa pemenang lomba lari.


Derek Redmond tak mendapat medali, bahkan ia didiskualifikasi dari perlombaan. Namun lihatlah komentar Ayahnya.


“Aku adalah ayah yang paling bangga sedunia!, Aku lebih bangga kepadanya sekarang daripada jika ia mendapatkan medali emas.”


Dua tahun paska perlombaan lari tersebut, dokter bedah mengatakan kepada Derek bahwa Derek tak akan lagi dapat mewakili negaranya dalam perlombaan olahraga.


Namun tahukah kalian apa yang terjadi?


Lagi-lagi, dengan dorongan dari  Ayahnya, Derek pun akhirnya mengalihkan perhatiannya. Dia pun menekuni dunia basket, dan akhirnya menjadi bagian dari timnas basket Inggris Raya. Dikiriminya foto dirinya bersama tim basket ke dokter yang dulu  memvonisnya takkan mewakili negara dalam perlombaan olahraga.


Jika kasih ibu, adalah melindungi kita dari kelamnya dunia, maka kasih sayang seorang Ayah adalah mendorong kita untuk menguasai dunia itu. Seorang Ayah akan senantiasa mendukung, memotivasi, men-support, dan membersamai kita dalam kondisi apapun. Ayah pulalah yang akan meneriakkan kita untuk bangkit, lalu memapah kita hingga ke garis finish. Karena mereka tak ingin kita menyerah pada keadaan, sebagaimana yang ia contohkan.

Wednesday, 29 May 2013

 
 Sumatra Cyber ~
Dialog yang indah ..
Kalau menurut anda ini baik tolong di share apabila tdk jangan. Tapi inilah yang di sebut rahasia di balik rahasia.
Aku (A): Tuhan, bolehkah aku bertanya PadaMU?
Tuhan (T): Tentu, hambaku. Silahkan

A: Tapi janji ya, Engkau takkan marah.
T: Ya, AKU janji.

A: Kenapa KAU izinkan banyak HAL BURUK terjadi padaku hari ini?
T: Apa Maksudmu?

A: Aku bangun terlambat.
T: Ya., Trus,

A: Mobilku mogok & butuh waktu lama tuk menyala.
T: Oke. Trus,

A: Roti yg kupesan dibuat tak seperti pesananku, hingga kumalas memakannya.
T: Hmm. Trus,

A: Dijalan pulang, HPku tiba2 mati saat aku b'bicara bisnis besar.
T: Benar. Trus,

A: Dan akhirnya, saat kusampai rumah, aku hanya ingin sedikit b'santai dg mesin pijat refleksi yg baru kubeli, tapi MATI! Knapa Tak ada yg LANCAR hari ini?
T: Biar KUperjelas HambaKU, ada malaikat kematian pagi tadi, dan AKU mengirimkan malaikatKU tuk b'perang melawannya agar tak ada hal buruk t'jadi padamu. KUbiarkan terTIDUR disaat itu.

A: Oh, tapi...
T: AKU tak biarkan mobilmu menyala TEPAT WAKTU karna ada pengemudi mabuk lewat didepan jalan & akan MENABRAKmu.

A: (merunduk)
T: Pembuat burgermu sedang sakit, AKU tak ingin kau tertular, oleh karenanya KUbuatnya salah bekerja.

A: (tarik nafas)
T: HPmu KUbuat mati karna mereka PENIPU, KUtak mungkin biarkanmu tertipu. Lagipula kan kacaukan KONSENTRASImu dlm mengemudi bila ada yg menghubungimu kala HP menyala.

A: (mataku berkaca-kaca) aku mengerti Tuhan
T: Soal mesin pijat refleksi, KUtau kau blm sempat beli voucher listrik, bila mesin itu nyalakan maka ambil banyak listrikmu, KU yakin kamu tak ingin berada dlm kegelapan.

A: (menangis tersedu) Maafkanku Tuhan.
T: Tak apa, tak perlu meminta maaf. Belajarlah tuk percaya PADAKU.
RencanaKU padamu lebih baik dari rencanamu sendiri.
Yakinlah bahwa Tuhan selalu baik
Yakinlah sgala Usahamu PASTI Sampai
Belajarlah tuk slalu bersyukur atas APAPUN yg terjadi,
Karna Smua Kan INDAH Pada Waktunya.

"Every god decision is better for you.that's depend what are you do.
example, if you wanna ask to women who you like,but you never ask to her,that's will be nothing.good planning without act is nothing.and she will go.

Maybe you feels Circumstance doesn't support you,maybe you think that's opportunity comes when you not already,and that's opportunity disappear when you ready

But...

That's a god decision,besides you must know it's better for you.
And if you know that's opportunity come when you not already,try to ready
Try to Confident....for your succesfull planning

Did you love her?

Really."

coba terjemahkan.

Setiap keputusan Tuhan adalah yang terbaik untuk anda, itu tergantung pada anda.
Misalnya, jika anda ingin mengatakan cinta pada wanita, tetapi anda tidak pernah mengatakannya, itu tidak merubah apa-apa. rencana yang baik tanpa tindakan hasilnya 0. dan dia akan pergi.

Mungkin anda merasa keadaan tidak mendukung anda, mungkin anda berpikir kesempatan datang ketika anda belum siap, dan kesempatan itu menghilang ketika anda siap.

tetapi

itu keputusan Tuhan, anda harus tau mana yang terbaik untuk anda. dan jika anda tau bahwa kesempatan itu datang ketika anda belum siap, maka cobalah untuk siap, cobalah untuk percaya diri... untuk perencanaan sukses anda

Dialog Ke-2


A : Tuhan,boleh aku bertanya dan protes kepada mu

T : Ya,Silahkan..

A : Tuhan,engkau tau segala sesuatu yang terjadi pada hambanya termasuk aku.

T : Iya,saya sangat mengerti yang terjadi,lalu?

A : Aku baru saja berpisah dengan kekasihku yg sudah 5 tahun kami berpacaran

T : Apa masalah kau?

A : Engkau tau tuhan...aku sangat cinta dan sayang pada nya

A : Aku ingin menikahi nya suatu hari nanti dan berkeluarga dengannya,mengapa kau pisahkan kami tuhan??

T : Biar aku perjelas hambaKu,ada sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirimu jika kau berkeluarga dengannya nanti..

T : Aku tunjukan dia yang sesuangguhnya kepada kau hambaKu

A : (mata berkaca dan tertunduk) bolehkah aku bertanya lagi tuhan?

T : Tentu hambaKu,silahkan

A : Kalau memang dia bukan jodohku dan tidak pantas bersamaku,mengapa engkau pertemukan kami pada saat itu tuhan??

T : Ya hambaKu,aku mempertemukan engkau dengan dia hanya untuk sementara dan itu adalah pelajaran dan latihan untuk kalian,agar mampu bertahan untuk ujianku yang selanjutnya,aku ingin engkau bertumbuh dewasa,berjiwa besar dan memiliki ke ikhlasan karena kehilangan sesuatu

A : Baiklah aku mengerti,ampuni aku tuhan

T : Tidak mengapa,tidak perlu kau meminta maaf,belajarlah percaya padaku bahwa sebuah rencanaKu akan lebih baik dari rencanaMu


Renungan Ke-3

uang Rp 20,000an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal mesjid
tapi begitu kecil bila kita bawa ke mall…

45 menit terasa terlalu lama untuk berdzikir, tapi betapa pendeknya waktu itu untuk PACARAN…dan KARAOKE...

betapa lamanya 2 jam berada di Masjid, tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film di bioskop…

susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat, tapi betapa mudahnya cari bahan obrolan bila ketemu teman atau pacar...

betapa serunya perpanjangan waktu di pertandingan bola favorit kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya…

susah banget baca Al-Quran 1 juz saja, tapi novel best-seller 100 halaman pun habis dilalap…

orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton bola atau konser, tapi berebut cari shaf paling belakang bila Jumatan agar bisa cepat keluar…

susahnya orang mengajak partisipasi untuk dakwah,
tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gossip…

kita begitu percaya pada yang dikatakan koran, tapi kita sering mempertanyakan apa yang dikatakan Al Quran…

begitu banyak orang segan/takut dipanggil sama boss, pejabat, dan orang "besar" lainnya, tapi begitu banyak orang yang cuek jika ada panggilan (adzan)/ dipanggil Allah..

kita bisa ngirim ribuan jokes lewat email, bbm, tapi bila ngirim yang berkaitan dengan ibadah sering mesti berpikir dua-kali…

Allah berkata : jika engkau lebih mengejar duniawi dari pada mengejar dekat dengan Ku maka Aku berikan, tp Aku akan menjauhi kalian dari surga Ku ...

Renungan Ke-4

Suatu kala ada uang Rp 100.000,- dan Rp 1.000,- yang dicetak bersamaan
100rb : hai 1rb, kita sebentar lagi berpisah, jaga diri ya
1rb : baik, kau juga

berbulan-bulan lamanya, akhirnya 2 lembar uang itu bertemu lagi di dompet suato orang
100rb : hai kau 1rb yang dulu dicetak bersamaan denganku kan? kenapa rupamu lusuh, kucel dan kisut begitu?

1rb : oh, aku sudah berkelana jauh kemana-mana, ke pasar, ke dompet tukang jualan bakso dan yang paling mengesankan bagiku adalah saat aku disumbangkan ke masjid

100rb : memangnya ada apa di masjid?

1rb : disana aku disumbangkan di kotak kecil untuk amal masjid, dan banyak manusia yang mengumandangkan adzan dan ayat-ayat suci Allah Swt

100rb : wah, kedengarannya indah sekali

1rb : iya, bagaimana denganmu? kenapa rupamu masih bagus seperti kita dicetak dulu?

100rb : yah, pemilikku walaupun sering mengajakku ke mall, tempat karaoke, tempat makan yang bagus, tidak pernah mengeluarkanku dari dompetnya

1rb : berarti kamu dicetak bukan untuk dijadikan alat tukar, tapi sebagai alat penggemuk dompet ini?

100rb : iya, betapa menyedihkan.. aku juga ingin membuang waktuku di masjid seperti kamu

dari percakapan di atas dapat disimpulkan bahwa uang 100rb jarang dibuat sumbangan atau sedekah
loading...